Guru pun Rela Mengajar Door to Door

  • Whatsapp
Guru di SDN Gunungrosa, Kecamatan Waluran, Kabupaten Sukabumi, Dede Intan Slamet saat memberikan materi pelajaran kepada peserta didiknya.

Kondisi wilayah yang jauh dari perkotaan membuat akses internet sulit dijangkau, belum lagi profesi orang tua siswa mayoritas sebagai petani sehingga sulit untuk memiliki handphone android, membuat guru wali kelas V di SDN Gunungrosa ini terjun langsung ke lapangan agar tetap memberikan pendidikan bagi anak didiknya.daringpembelajaran

“Pembelajarannya dimulai pukul08.00 WIB setiap hari senin hingga kamis. Masing-masing kelompok memiliki waktu dua jam untuk belajar dan untuk pembelajarannya sendiri kita bagi empat kelompok. Maksimal satu kelompok itu ada 10 orang siswa, jadi pembagiannya kita urutkan sesuai kampung halaman anak-anak saja,” bebernya.

Bacaan Lainnya

Selama mengajar, ia pun tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Seperti menggunakan masker, jaga jarak antar siswa dan sebelum memulai pembelajaran menggunakan handsanitizer baik guru maupun muridnya.

Program mengajar dari rumah ke rumah ini disebut program Guling atau guru keliling. Program Guling ini merupakan ide dari pengawas pendidikan di Kecamatan Waluran, jadi Dede bukanlah satu-satunya guru yang berkeliling ke rumah-rumah siswa untuk mengajar.

Sebelumnya, di Kecamatan Waluran pembelajaran menggunakan model daring. Hanya saja, pembelajaran menggunakan jaringan internet ini dinilai tak efektif lantaran terkendala jaringan dan banyak anak yang tak memiliki handphone android.

Tidak hanya itu, dia melihat banyak orang tua yang seharusnya membimbing anak dalam kegiatan belajar di rumah, tidak memahami materi yang disampaikan guru dalam pembelajaran daring.

Sehingga, banyak anak yang memilih bermain diluar dibandingkan belajar bersama orang tuanya.

“Sebelumnya kita pakai daring sebelum kenaikan kelas, tapi tak efektif. Banyak kendalanya seperti misalnya jaringan, kuota dan handphone buat anak-anak. Seperti misalnya di Kampung Cijawa Desa Mangunjawa, tidak terakses internet dan tidak semua anak mempunyai hanphone. Jangankan hanphone buat, seharihari makan saja mereka susah,” tambahnya.

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *