BERITA UTAMAKABUPATEN SUKABUMI

Dampak El Nino di Sukabumi, Panen Ubi Jepang Untuk Ekspor ke Singapura Menurun Drastis 

×

Dampak El Nino di Sukabumi, Panen Ubi Jepang Untuk Ekspor ke Singapura Menurun Drastis 

Sebarkan artikel ini
Petani Ubi Jepang Sukabumi
Sejumlah petani saat memanen ubi jepang untuk ekspor ke Negara Singapura

SUKABUMI – Musim kemarau yang panjang pada fenomena El Nino telah berdampak signifikan terhadap hasil panen ubi Jepang di Kampung Lemah Duhur, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi.

Para petani di kawasan tersebut, saat ini menghadapi penurunan dalam jumlah produksi, karena hanya menghasilkan hanya sekitar 8 ton per hektare lahan pertanian tersebut, dibandingkan dengan hasil normal sebesar 20-25 ton.

Bank bjb Tandamata

Hal demikian, disampaikan petani milenial Mukhlis Rahayu alias Akay Trisula (35). Bahwa menurutnya, para petani di Kampung Lemar Duhur, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Kabupaten Sukabumi yang menghasilkan ubi Jepang untuk tujuan ekspor ke negara Singapura merasakan dampak buruk dari musim kemarau yang ekstrim.

“Kekeringan yang berkepanjangan telah menurunkan produktivitas tanam dan menyebabkan puso di ubi Jepang, yang mengurangi bobot dan saham seperti biasanya,” kata Akay kepada Radar Sukabumi pada Kamis (26/10).

Menurut Akay, kualitas ubi yang dihasilkan selama musim kemarau panjang kali ini mengalami penurunan, terutama pada ukuran ubinya menjadi mengecil. “Rata-rata biasanya petani itu panen ada 20- 25 ton. Nah, sekarang jadi 5 ton. Itu lihat saja hasil buahnya banyak yang kecil,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, jumlah hasil panen tersebut sangat jauh dari target. Sebab, pihaknya bukan hanya  memasok ubi untuk kebutuhan dalam negeri saja. Namun juga untuk kebutuhan ekspor ke Negara Singapura.

“Kebutuhan ekspor sangat banyak khususnya buat ke Negara Singapura, kami masih kekurangan barang. Seminggu itu minta ratusan ton. Paling rata-rata di Sukabumi ini karena saya belum terlalu besar paling 10 ton-nan perminggu,” timpalnya.

Dirinya mengaku telah membeli ubi jepang dari para petani itu, seharga Rp3 ribu per kilogram untuk ukuran 100 gram ke atas. Sementara, untuk eksportir di penampungan dijual dengan harga Rp10 ribu per kilogram.