“Jadi, untuk target maupun kuota ekspor ke luar negeri, khususnya ke Negara Singapora itu, tidak ada batasannya. Tapi, kalau untuk kebutuhan lokal untuk pasar di Indonesia itu hanya 60 ton per harinya,” tukasnya.
Masih ditempat yang sama, salah seorang petani ubi jepang di Kampung Lemah Duhur, Desa Sukamanis, Kecamatan Kadudampit, Edi Susianto (50) mengatakan, lahan pertanian ubi jepang yang tengah ia garap di lahan pertaniannya itu, memiliki luas sekitar 3 hektare.
“Biasanya, per hektare itu kalau lagi normal bisa menghasilkan ubi jepang untuk ekspor ke negara Singapora itu, 20 sampai 25 ton. Namun, kalau sekarang paling bisa menghasilkan 8 sampai 10 ton, karena banyak ukuran buah ubinya yang mengecil,” jelasnya.
Penurunan hasil panen buah ubi jepang itu, karena dampak musim kemarau panjang. Terlebih, ia mengaku telah menanam ubi jepang itu sejak empat bulan terakhir, tepatnya saat wilayah Sukabumi dilanda musim kemarau panjang.
“Iya, karena saat musim kemarau, tanaman ubi ini tidak maksimal tersiram air. Nah, dampaknya buahnya jadi banyak yang kecil,” pungkasnya. (Den)






