Larangan Mudik dan Lebaran 1442 H

kang-warsa

Oleh Kang Warsa

Tidak dapat dimungkiri, suasana lebaran tahun ini tidak akan berbeda dengan lebaran lebaran tahun sebelumnya. Sejumlah kebijakan yang telah diterbitkan oleh pemerintah seperti: pelarangan mudik, larangan open house atau halalbihalal , dan larangan buka puasa bersama jika melebihi kapasitas ( di atas lima orang) menjelang lebaran. Agar penyebaran virus korona hasil mutasi tidak bertransmisi lokal mau tidak mau harus dipatuhi oleh semua pihak. Sampai saat ini memang tidak sedikit sejumlah kebijakan masih belum dilaksanakan apalagi sampai dipatuhi oleh warga secara utuh.

Bacaan Lainnya

Tahun lalu, dalam menghadapi lebaran 1441 H, Majelis Ulama Indonesia  mengeluarkan imbauan tentang mekanisme pelaksanaan salat Idul Fitri.

Benerapa klausul telah dipublikasikan, antara lain: pelaksanaan salat Ied bisa di rumah bagi wilayah yang telah dinyatakan zona merah penyebaran virus korona; wilayah yang dipandang aman dipersilahkan menyelenggarakan salat Ied secara berjamaah dengan tetap mengindahkan protokol kesehatan maksimum.

Hal sama sudah dapat diprediksi tidak, kebijakan penyelenggaraan salat Idul Fitri tahun 1442 H pun tidak akan jauh berbeda dengan thaun sebelumnya.

Kendati demikian, sudah dapat diprediksi, umat Islam secara mayoritas akan tetap menyelenggarakan salat Ied secara berjamaah. Selain merupakan ibadah tahunan, salat Ied telah menjadi tradisi silaturahmi pascapuasa. Sangat berat bagi umat Islam untuk tidak melaksanakannya.

Mayoritas umat Islam sebetulnya sangat menyadari terhadap serbuan gelombang kedua pandemi Covid-19 dan langkah-langkah pencegahannya. Walakin, tradisi yang telah mengakar dan diwariskan dari generasi ke generasi ini telah begitu mendarah daging, tidak mungkin absen dalam kehidupan.

Larangan Mudik

Para ahli, terutama beberapa epidemolog, telah mewanti-wanti penyebaran virus korona gelombang kedua dapat saja terjadi jika seluruh pihak tidak mewaspadainya dan bersikap lalai terhadap penerapan prokes maksimum.

Meskipun penambahan kasus positif Covid-19 memperlihatkan angka stagnan, bukan menjadi jaminan penyebaran virus korona akan terhenti jika sejumlah aturan masih diabaikan oleh banyak pihak.

Kebijakan larangan mudik pralebaran dan sejumlah pengetatan moda transportasi terlihat mulai diterapkan. Operasi gabungan kepolisian, TNI, dan lembaga terkait lainnya telah mulai melakukan penyekatan lalu lintas di titik-titik tertentu dan jalur yang menghubungkan antara daerah urban dengan rural.

Bagi masyarakat sendiri, kebijakan larangan mudik memang telah memukul alam bawah sadar mereka. Bagaimana pun, di dalam diri manusia Indonesia telah tertanam semangan “ruralisasi” kembali ke kampung halaman setelah beberapa tahun ditinggalkan.

Ikatan gemeinschaft, suasana batin yang tercipta dalam masyarakat komunal selama ribuan tahun lalu telah terekam dalam genetika manusia Indonesia. Itulah kenapa, setiap siapa pun –apalagi orang yang dibesarkan dalam kultur Sunda- sering mendambakan kembali ke kampung halaman, bercengkerama bersama keluarga inti, tetangga, dan masyarakat.

Mudik merupakan tradisi tahunan, entah itu diberi judul “pulang kampung”, “balik ka lembur”, “silaturahmi dengan handai taulan” telah menjadi bagian dari pranata budaya di negara ini.

Di negara-negara dengan mayoritas penganut Islam pun tidak ditemui tradisi mudik seperti halnya di Indonesia. Atau, meskipun di negara lain ada kegiatan seperti mudik, namun tidak menjadi pembahasan serius, dikaji oleh para ahli, dan melibatkan lintas lembaga untuk menanganinya.

Di negara ini, seminggu sebelum dan setelah lebaran, semua lembaga terlibat langsung menangani pelaksanaan mudik. Pers juga tidak lepas memberitakan kondisi teraktual dak terkini selama masa mudik.

Suasana Lebaran

Faktanya, suasana lebaran dari tahun ke tahun memang selalu berbeda. Lebaran di kampung dengan di kota saja benar-benar memperlihatkan suasana yang cukup berbeda.

Ismail Marzuki menangkap sinyal perbedaan ini, kemudian diciptakanlah lagu Selamat Hari Lebaran. Lagu dengan nuansa gypsi ini menye derhanakan sikap-sikap orang kota dan kampung di hari lebaran.

Suasana lebara di kampung tahun 80-an dengan era milenial sekarang saja sangat jauh berbeda. Orang-orang kampung tahun 80-an, seminggu sebelum lebaran telah berbenah dalam menghadapinya, setiap rumah akan menghasilkan wangi kue, masyarakat membuat berbagai macam penganan kampung, atap-atap rumah dijadikan tempat menjemur aneka kue. Tradisi ini terus bertahan sampai akhir tahun 90-an.

Suasana di atas sudah jarang ditemui di era milenium kedua. Berbagai macam kue, nama, bentuk, jenis, dan harganya bisa dipesan dan dibeli di swalayan-swalayan. Kue lebaran tidak perlu diproduksi mandiri, kita tinggal memesan atau membeli langsung ke toko-toko kue.

Toh, harganya terjangkau karena kue-kue tersebut ditawarkan dengan varian harga, kemasan juga dapat disesuaikan dengan selera kita.

Era milenial ini menawarkan kepelbagain dan keragaman. Pertimbangan ekonomi menjadi alasan orang-orang lebih memilih memesan dan membeli kue telah jadi, biaya untuk membuat kue secara mandiri ditambah waktu dan tenaga pengerjaannya setelah dihitung ternyata lebih mahal dibandingkan dengan membeli kue jadi. Orang-orang kampung pun, di era ini, dapat menikmati beragam kue modern, mereka membacanya “cake”.

Apalagi di tengah pandemi, membeli barang-barang secara daring diyakini lebih aman sebab antara pembeli dengan penjual, pembeli dengan sesama pembeli dapat menghindari kontak atau interaksi fisik secara langsung. Ongkos kirim dari kota besar seperti Jakarta saja terbilang murah.

Layanan belanja daring menawarkan paket-paket penjualan barang dengan harga murah. Terlebih di waktu sebelum lebaran, toko-toko daring bersaing menggoda siapapun dalam bentuk potongan harga dan tawaran-tawaran lainnya. Suasana lebaran di era milenial ini telah berpindah ke ruang-ruang daring.

Arus lalu-lintas pesanan melalui aplikasi belanja daring jumlahnya akan lebih besar dari arus lalu-lintas pesawat kargo pembawa muatan barang. Meskipun pada akhirnya, barang-barang yang dipesan ini akan didistribusikan kepada konsumen melalui angkutan barang.

Migrasi manusia dalam tradisi mudik, dari kota ke desa sangat besar dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu umat manusia. Nenek moyang manusia, sebelum memutuskan untuk menetap dan membuat pemukiman, merupakan komunitas nomaden, kelompok manusia yang selalu bermigrasi dan berpindah tempat dari satu lahan ke lahan lainnya di era revolusi kognitif, 100-60 juta tahun lalu.

Setelah memasuki era revolusi pertanian, manusia telah menempati lahan-lahan tertentu dan membentuk pemukiman pun kebiasaan bermigrasi dari satu tempat kemudian kembali lagi ke pemukiman atau keluarga inti pun tetap dilakukan oleh nenek moyang kota.

Ciri utama homo sapiens yaitu kebiasaan mereka berkelana, nomad, homo-traveller, diwariskan secara turun-temurun sampai kepada generasi sekarang.

Tidak hanya dalam perspektif sosial, dalam perspektif profetik pun demikian. Nabi Ibrahim melakukan pengembaraan dan bermigrasi dari Ur ke Kan’an, Nabi Musa melakukan eksodus besar-besaran dari Mesir ke Tanah Perjanjian, Nabi Isa merupakan seorang nabi yang gemar melakukan pengembaraan dari satu desa ke desa.

Nabi Muhammad melakukan hijrah dari Mekah ke Madinah. Entah dengan alasan apa, kata hijrah atau berpindah tempat mengalami pergeseran makna menjadi perubahan sikap akhir-akhir ini. Gauthama telah dipromosikan oleh sang ayah sebagai pewaris tunggal kerajaan Kapilawastu.

Setelah dewasa, ia memutuskan untuk keluar dari pingitannya, sikap empati menjalar di dalam dirinya saat melihat rakyat yang berada di seberang istana hidup dalam kepayahan. Gauthama muda memutuskan melakukan pengembaran, di kemudian hari dikenal dengan jalan spiritual yang membawa dirinya ke dalam sebuah efifani, pergumulan dengan Dia yang adikodrati.

Mudik dalam perspektif sosiologis adalah rekonsiliasi diri manusia yang telah menyerap nilai-nilai urban dengan kampung halaman yang menyimpan imaji masa lalu. Itulah pangkal utama ada atau tidak ada larangan mudik, deurbanisasi menjelang lebaran sangat sulit dihindari.

Kita dapat saja beranggapan kemajuan teknologi tetap dapat mempertemukan setiap orang melalui gawai secara daring. Namun, pemakaian lebih intens gawai dan aplikasi obrolan selama empat bulan terakhir ini telah membuat kita merasa jenuh.

Pertemuan langsung, membangun hubungan interpersonal dengan sanak keluarga di saat lebaran lebih dipandang berkualitas daripada melakukan obrolan melalui gawai. Work from home dan proses belajar dari rumah yang telah dilalui dua bulan terakhir ini telah membuat kita jenuh.

Survey daring beberapa lembaga menyebutkan 70% responden mulai merasa jenuh dengan proses bekerja dari rumah. Artinya, berbagai platform yang digunakan ternyata sulit mengikis habis sifat dasar manusia sebagai homo socius, mahluk dengan naluri kebersamaan.

Tanpa Pawai Beduk atau Ngadulag

Larangan berkerumun untuk mencegah lonjakan penularan virus korona di gelombang kedua juga dapat berimbas pada tradisi lain yang biasa dilakukan oleh umat Islam: pawai beduk atau takbir keliling. Dalam terma kasundaan, Ngadulag merupakan bentuk papaés atau sikap penghias di malam lebaran.

Lebaran merupakan saat seluruh umat Islam berbahagia, sebuah kemenangan yang harus diisi oleh sikap suka cita seperti halnya menabuh beduk atau dulag. Di sisi lain, pandemi Covid-19 telah memaksa kita untuk merenung sejenak tentang kebersahajaan sikap dalam meskipun dalam suasana kebahagiaan.

Kebahagiaan umat Islam dalam menghadapi lebaran, hari kemenangan harus disikapi dengan menghidari euforia dan perayaan berlebihan. Tentu saja, hal berat bagi umat Islam harus menahan diri merayakan kemenangan selama dua tahun ini.

Di kampung halaman saya, wilayah rural perdesaan, perbedaan suasana puasa tahun ini dengan beberapa dekade lalu begitu  terasa. Menjelang lebaran biasanya sering terdengar suara dar-der-dor petasan memecah keheningan, sekarang suasananya benar-benar hening.

Anak-anak yang biasa menyalakan bedil lodong menjelang imsak dan buka puasa sama sekali tidak melakukan prosesi menakjubkan ini.

Beberapa tahun lalu, meskipun ada larangan menyalakan petasan dan bedil lodong, sama sekali tidak menjadi halangan bagi anak-anak untuk mengingatkan para penduduk bahwa saat suara menggelegar dari bedil lodong sebagai pertanda menjelang berbuka puasa atau segera mengakhiri makan sahur.

Penjarakan sosial di tengah pandemi akan terus berlangsung sampai malam takbiran nanti. Orang-orang akan bercengkerama menyambangi tetangga dengan tetap memakai masker sambil menjaga jarak.

Tidak akan sedekat dan seakrab seperti beberapa tahun lalu. Kita memang dituntut untuk memendam keharuan di tengah kebahagiaan karena pandemi benar-benar belum usai.

Pada akhirnya, kumandang takbir tetap akan menggema di seantero, memenuhi ruang-ruang keharuan, menyelusup di sela-sela ranting dan dedaunan. Dalam suasana ini lah setiap dari kita dituntut untuk melangkah jauh ke dalam diri, merenungi kerapuhan norma-norma hanya karena virus korona.

Kepongahan kita selama ini sebagai sapiens yang sering merenggut tugas dan peran Tuhan sama sekali menunjukkan kekerdilan kita di dalam kumandang kemahabesaran-Nya.

Kita sedang ringkih dan tertarih-tatih setelah pada dekade-dekade sebelumnya selalu merasa sedang mengarah kepada pencapaian tertinggi dari lini masa evolusi dari mahluk satu sel ke wujud tanpa bentuk: homo deus, seperti yang disebutkan oleh Harari dalam buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *