Setelah mipit, ritual dilanjutkan dengan Ngalantaian yaitu menjemur padi selama 1 bulan, dilanjut dengan ritual gentos tali (mengganti tali ikatan padi) dan mocong (mengikat padi yang sudah dijemur).
Kemudian padi yang sudah diikat dilakukan ritual Diunjal yaitu membawa padi ke Leuit (lumbung padi) dengan alat panggul yang dinamakan rengkong secara berduyun-duyun. Sebelum disimpan di lumbung padi setiap warga wajib untuk menyisihkan 1 (satu) ikat padi atau Jekat di Leuit Si Jimat (Lumbung terbesar) istilah lainnya dari Jekat adalah Ngaluarkeun Heula.
Menurut abah jekat adalah kokotor (kotoran), jika dipresentasikan, maka jumlah yang harus dikeluarkan adalah 10% dari hasil padi untuk yang membuthkan seperti fakir miskin, jompo, janda dan anak yatim. Setelah diunjal dan jekat dilaksanakan tiba saatnya ritual ngadiukeun atau menyimpan padi di leuit dengan diiringi jampe dari Abah.
Jampe menurut Satjadibrata merupakan bentuk doa yang diyakini memiliki kemampuan untuk menghilangkan bahaya yang mengancam (Amaliyah & Arisna, 2023).
Setelah padi berumur satu minggu di dalam leuit, dilakukanlah selamatan sore kemudian dilanjutkan dengan ritual nutu. Nutu merupakan proses pembersihan padi dari cangkang secara tradisional menggunakan alat bernama lisung.
Padi yang sudah dibersihkan dari cangkang kemudian diolah atau dipasak. Proses ini dinamakan ritual nyangu repeh, artinya memasak nasinya tidak boleh berbicara atau puasa berbicara, karena berbicara pada saat memasak nasi pertama hasil panen adalah perbuatan pamali.
Menurut Danadibrata pamali adalah bentuk larangan yang apabila dilanggar akan mendatangkan celaka (Dewi et al., 2023). Setelah nyangu repeh dilaksanakanlah ritual ageung yaitu mengundang warga untuk melaksanakan selamatan (hamin).
Kemudian setelah hamin dilanjutkan dengan ritual ngabukti yaitu ritual antara abah dan ambu disertai oleh seorang saksi. Setelah ngabukti, dilakukan ritual nganyaran, didalamnya dilakukan musyawarah untuk ritual serah ponggokan, dalam hal ini prosesi serah ponggokan ditandai dengan membawa ciri jiwa yang hidup dan dikembalikan kepada orang tua, sehingga bentuknya adalah data serah jiwa manusia, hewan dan kendaraan. masa ponggokan ini paling lama tiga minggu atau satu bulan sampai dengan seren taun.
Seren Taun, merupakan ritual seremoni dari panen, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang didapatkan, dalam prosesnya ada ritual carita balik incu putu yaitu warga kasepuhan mendatangi abah untuk bercerita dan mohon doa keselamatan dan acara hiburan warga dengan mengundang tokoh masyarakat, pemerintah, akademisi, aparat keamanan dan banyak lagi.
Kemudian dilanjutkan dengan salamet tilu peuting selamat tiga hari yaitu selamatan hari senin, selamatan hari selasa dan selamatan hari rabu. Ritual selanjutnya yaitu turun nyambut yang merupakan kegiatan salametan (syukuran) akan dimulainya penggarapan lahan huma. Turun nyambut dilaksanakan sekalian pada saat salamet tilu peuting.
Ritual-ritual menanam hingga memanen padi bermakna filosofis bagi masyarakat Kasepuhan Sinarresmi. Memperlakukan padi sebagaimana seperti manusia, bermakna mencegah pengrusakan alam.






