ARTIKEL

Komunikasi Budaya Ritual Menanam Padi di Kasepuhan Adat Sinarresmi dalam Prespektif Muhammadiyah

×

Komunikasi Budaya Ritual Menanam Padi di Kasepuhan Adat Sinarresmi dalam Prespektif Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Aris Juliansyah

Terdapat lima ritual yang dilakukan pada saat menanam padi. Dimulai dari nyacar yaitu kegiatan pembersihan ladang huma yang nantinya akan ditanami benih padi dengan cara memotong rumput, membersihkan semak belukar, memotong pepohonan kecil yang tumbuh liar, memotong dahan dan ranting agar nantinya lahan mendapatkan sinar matahari yang cukup.

Setelah selesai membersihkan lahan, tahap kedua adalah ritual Ngahuru yaitu kegiatan membakar rerumputan, potongan semak belukar dan potongan-potongan pepohonan kecil.

Bank bjb Tandamata

Kegiatan ngahuru disempurnakan dengan ritual berupa salametan yang diyakini sebagai penyempurna kegiatan, karena pada saat kegiatan ngahuru, terdapat ekosistem yang terganggu seperti semut, ulat, belalang, capung, kupu-kupu, dan mahluk hidup lainnya.

Salametan bertujuan untuk memohon ikhlas dan ridhonya dari mahluk hidup yang terganggu. Ritual ketiga yaitu ngerukan, berupa ritual membuat sesajen, sejumlah 6 lubang setiap lubang berisi satu benda yaitu sisir, eunteung (cermin), seel, pacing, sulangkar dan dadap.

Kemudian disediakan juga lubang pengiring sejumlah 5 lubang dan 17 lubang. Angka 6, 7 dan 17 merupakan filosofi dari agama yang dianut. 5 merujuk pada rukun Islam, 6 merujuk pada rukun Iman dan 17 merujuk pada jumlah rakaat sholat fardhu.

Setelah ngerukan, dilanjutkan dengan ritual caruta carita berupa kegiatan meminta ijin kepada orangtua yang masih ada dan juga kepada orang tua yang sudah meninggal, juga kepada karuhun (leluhur/nenek moyang).

Ritual terakhir dari menanam padi adalah ngaseuk yaitu menanam benih padi. Sebelum menanam padi, masyarakat terlebih dulu membuat pungpuhunan yang merupakan simbol dari tempat dimana ibunya padi di tanam atau disebut dengan istilah Nibakeun Sri ka Bumi.

Abah menanam 2 ikat padi, 1 ikat diyakini sebagai padi perempuan dan ikatan lainnya diyakini sebagai padi lelaki, menanam dua ikat padi di sebut dengan istilah sakuren (dipersatukan).

Ketika padi mulai tumbuh, terdapat ritual yang disebut dengan salamet sapangjadian yang berarti kondisi padi yang baru tumbuh, dalam bahasa kasepuhan diistilahkan ngabulu irung. Ritual salametan sapangjadian mengundang tetangga sekitar membuat sajian bubur sumsum, jika ada sisa maka bubur tersebut diawurkeun ke pungpuhunan atau ditabur di pungpuhunan.

Kemudian dalam kurun waktu satu bulan dilakukan aktivitas ngored (membersihkan tumbuhan seperti rumput yang tumbuh disekitar padi sampai dengan pare nyiram (hamil muda) atau padi mulai tumbuh biji.

Untuk menjaga padi dari serangan hama maka dilakukan ritual mager atau menjaga, dalam hal ini Abah melakukan perjanjian dengan pemilik/ pencipta hama dengan tujuan agar hama tidak mengganggu padi yang sedang tumbuh. Ritual dilaksanakan di rumah Abah (imah gede), doa-doa disampaikan kepada sang pemilik hama agar padi selamat.

Setelah padi berumur 5/6 bulan dan berwarna keemasan pertanda padi sudah siap dipanen. Jika sudah terlihat ciri-ciri panen, maka dilakukan ritual mabay yaitu melamar atau mohon ijin kepada padi, apakah padi ikhlas atau tidak untuk dipanen, ritual mabay sarat dengan kepekaan Abah, jika sudah terasa dihati bahwa padinya bisa dipanen, maka selanjutnya dilakukan ritual mipit (mengambil padi), berupa ritual di pungpuhunan dengan mengikat induk padi namun tidak dipotong, induk padi dipotong ketika padi yang lain sudah selesai dipotong.