ARTIKELUniversitas Muhammadiyah Sukabumi

Brain Drain: Dampak dan Solusinya

×

Brain Drain: Dampak dan Solusinya

Sebarkan artikel ini
Leonita Siwiyanti

Oleh : Leonita Siwiyanti
Dosen Program Studi Manajemen Retail
Fakultas Ekonomi – Universitas Muhammadiyah Sukabumi

Ribuan mahasiswa Indonesia mendapatkan beasiswa dari pemerintah Singapura sehingga mereka memutuskan menjadi warna negara di sana. Fenomena ini menjadi tamparan keras bagi pemerintah Indonesia. Terutama dalam memperbaiki kualitas lapangan pekerjaan dan upaya menjadi negara maju pada 2045.

Bank bjb Tandamata

Jumlah penduduk yang besar memicu banyak masalah. Pengangguran terjadi dipicu oleh tidak imbangnya jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan. Selain itu, masalah tingkat pendapatan yang rendah, kurangnya fasilitas, kenyamanan kerja yang rendah, dan kebebasan berkarya yang terbatas. Semua itu menyebabkan banyak penduduk yang mencoba mencari pekerjaan ke luar negeri.

Kondisi perpindahan ini sering disebut dengan Brain Drain. Faktor penarik terjadinya brain drain diantaranya prospek kehidupan ekonomi yang lebih baik, lebih banyak fasilitas pendidikan serta penelitian dan teknologi yang tersedia.

Di samping itu, hal yang menarik adalah banyak kesempatan kerja, pengalaman kerja yang tinggi, dan tingginya budaya akademis di negara tujuan.

Asal Usul Fenomena Brain Drain

Sumber daya manusia (SDM) menjadi hal yang penting bagi suatu negara. Saat persaingan dan keunggulan menjadi sesuatu yang diperlukan untuk memilih yang terbaik dalam menentukan sumber daya manusia. Sehingga banyak negara maju yang sangat terbuka dalam mempekerjakan SDM dari negara lain.

Amerika Serikat merupakan salah satu contoh yang dapat memanfaatkan brain drain dan menjadi negara maju yang menikmati dampak positifnya. Secara khusus, industri high tech-nya sangat bergantung pada migran Asia.

Secara sederhana, brain drain merupakan perginya kaum intelektual, ilmuwan, cendikiawan dari negerinya sendiri dan menetap di luar negeri. Kondisi brain drain dalam kadar tertentu, bisa merugikan negara asal, karena ada potensi aset SDM terbaiknya yang hilang.

Di India, sejak tahun 1960-an banyak ilmuwan dan tenaga ahli muda India yang berkualitas memilih untuk bekerja di luar negeri. Banyak anak muda India lulusan Indian Institute of Technology (IIT) Bombay, New Delhi, Madras dan lulusan universitas lainnya di India yang memilih untuk bekerja di perusahaan-perusahaan Amerika, Kanada, Inggris dan negara maju lainnya.

Data tahun 1990-an di AS, kaum profesional muda India menguasai lebih dari 8000 perusahaan di bidang teknologi komunikasi. Walaupun awalnya brain drain sangat merugikan India, pemerintah India melakukan berbagai terobosan. Akhirnya, banyak profesional India yang pulang kampung.

Kasus brain drain di China pada awalnya juga sangat mengkhawatirkan. Laporan Brain drain in China menyebutkan bahwa dari 1,06 juta mahasiswa asal China yang belajar di berbagai universitas di AS, hanya 275 ribu orang saja yang kembali ke China. Selebihnya, sebagai pelaku brain drain dan bekerja di berbagai perusahaan di AS.

Dampak Brain Drain dan Krisis SDM di Indonesia

Fenomena brain drain juga terjadi di Indonesia berawal pada dekade 1960-an yakni banyak pelajar Indonesia yang tidak kembali ke tanah air. Hal itu terjadi pada tahun 1965 pergeseran politik dari orde lama ke orde baru. Banyak mahasiswa yang belajar di Eropa memilih untuk tidak kembali lagi ke Indonesia.

Begitu pula pada tahun 1980-an, ketika B.J. Habibie mengirim ratusan talenta muda untuk belajar ke luar negeri dan mereka juga tidak kembali ke Indonesia. Kemudian berkembang pada saat terjadinya krisis ekonomi yang menimpa Indonesia pada tahun 1998-an.

Sehingga banyak mahasiswa yang sudah lulus sekolah memilih bertahan di luar negeri daripada kembali ke Indonesia yang belum menjanjikan kejelasan bagi masa depannya.

Begitu juga ketika Indonesia merestrukturisasi Badan Pengelola Industri Strategis (BPIS), banyak ilmuwan menjadi penganggur sehingga mereka menyebar ke Jerman, Malaysia, Brasil, Turki, dan Timur Tengah. Sampai saat ini, fenomena brain drain di Indonesia secara angka statistik tidak terdapat data resmi tetapi diperkirakan mencapai angka 5%.

Banyak ilmuwan Indonesia yang bekerja di luar negeri yang berlatar belakang bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, ekonomi, dan sosial. Dari sebanyak itu terdapat sekitar 400 ilmuwan yang bekerja di berbagai institusi penelitian bergengsi dan banyak di antara mereka menduduki posisi penting.

Jika suatu negara memiliki banyak brain drain, akan ada kekurangan tenaga kerja terdidik, terlatih, dan terampil. Jika kondisi ini dibiarkan akan berdampak pada permasalahan ekonomi negara.

Jika banyak penduduk yang bermigrasi ke luar negeri, apalagi yang melakukannya adalah penduduk yang berpendidikan tinggi, terampil dan terampil, bisa saja mengancam keberlangsungan perekonomian Indonesia. Indonesia akan mengalami kekurangan tenaga kerja terdidik dan terlatih.

Menurut Elisa, brain drain yang terjadi secara besar-besaran sangat ditakuti negara-negara berkembang. Brain drain adalah fenomena perpindahan para intelektual, peneliti, ilmuwan, dan sarjana dari dalam negeri ke luar negeri.

Mereka pergi ke negara yang lebih maju dari negara asalnya. Brain drain ini merugikan negara asalnya karena penemuan atau penelitian orang tersebut akan diakui, serta dipatenkan oleh negara tujuan.