Semua itu dapat terjadi, lanjut Asep yang juga Ketua STIE PGRI Sukabumi itu, jika koalisi gotong royong tetap permanen. Artinya, tidak ada partai politik (parpol) yang bergabung kembali kepada koalisi minimalis atau koalisi cukup 20 persen suara di perwakilan legislatif tersebut.
“Kostalasinya, akan lain dan dapat berubah jika ada partai lagi yang kembali bergabung. Kalau tidak ada, PKB akan dengan mulus menyodorkan calon pendamping Pa Hanafie,” kartanya.
Jika koalisi PDI Perjuangan dan PKB tetap bertahan, lanjut Asep, tentunya hal itu menjadi bagian dari rencana politik menjelang pesta demokrasi lima tahunan tersebut. Pasalnya, setiap parpol dan koalisi parpol memiliki taktik dan setrateginya masing-masing dalam mempersiapkan Pilwalkot nanti.
Pasalnya, semua koalisi parpol sama-sama menargetkan kemenangan usungannya masing-masing. “Kan gak mungkin, koalisi dan usungan dibentuk kalau tidak punya setrategi. Mungkin, ini bagian dari setrategi PDI dan PKB, kita harus hormat ya,” terangnya.
Asep mengaku, jika melihat indikasi bakal adanya partai lain akan bergabung kepada koalisi gotong royong itu sangat besar. Terutama menurutnya, Partai Golkar yang saat ini masih belum terpetakan serta belum menyatakan sikap untuk bergabung dengan koalisi manapun atau membuat koalisi baru.
“Saya melihatnya begitu. Jadi atau tidaknya, itu kembali kepada komunikasi politik yang dilakukan. Baik antar pengurus partai maupun antar kandidat yang sudah muncul dimasing-masing usungan partainya,” akunya. (sep/t)




