ARTIKELUNIVERSITAS NUSA PUTRA

Analisa Strategi Ekonomi

Studi Kasus di Propinsi Jawa Barat Ketika Perekonomian Melambat Akibat Merebaknya Virus Corona

Oleh : Abu Bakar Ashidiqy MM1,
Dosen Prodi Manajemen dan Ekonomi_Universitas Nusa Putra Sukabumi
Email.: [email protected], [email protected],

Abstrak: Strategi Ekonomi adalah suatu kajian yang relatif baru ditengah berkembangnya ilmu ekonomi yang berkembang pesat dan dalam hubungannya dengan llmu Ekonomi Pembangunan (Economic Development) baik ide dan konsep yang bisa di aplikasikan oleh para pengambil kebijakan suatu daerah (region) dalam mempercepat tujuan ekonomi yakni menciptakan pertumbuhan (growth) dan kemakmuran ekonomi (prosperity).

Menilai performa ekonomi suatu regional diperlukan untuk mengkaji secara mendalam dan luas karena strategi ekonomi berkorelasi dengan sejumlah parameter performa ekonomi makro seperti i) PDB. ii) Suku Bunga. iii) Inflasi dan iv) Peredaran Uang ditengah keterbatasan sumberdaya yang dimiliki suatu daerah para pemangku mengambil kebijakan serius dalam melaksanakan kebijakan strategi ekonomi.

Hasil kajian bisa menjadi masukan dan petunjuk (guidance) dalam mengambil kebijakan strategi ekonomi yang tepat bagi suatu region tertentu sebab setiap daerah (region) memiliki sources dan keunikan yang berbeda dengan daerah yang lain sehingga mampu mendorong performa jangka panjang ekonomi serta keberlanjutan pembangnan ekonomi (sustainability) suatu daerah tertentu.

Selanjutnya. Meng- ilustrasi- kan data performa ekonomi makro suatu daerah dalam periode tertentu sangat diperlukan untuk melihat kecenderungan (trend) sekaligus analisis serta menjadi input bailik strategi ekonomi yang ditempuh saat ini sejauh mana tingkat level ke-efektif-annya.

Keywords: Strategi Ekonomi. Performa Ekonomi ( i)PDB. ii)Suku Bunga. iii) Inflasi. iv) Peredaan Uang ). Daerah (Region). Ekonomi Pembangunan (Economic Development).

Strategi Ekonomi menurut Bruce R. Scott (Harvard University) adalah lebih simple dalam bentuk penjelasan sebagai berikut :

  1. Sebuah visi daerah (desired of future state) bentuk ideal ekonomi yang ingin diwujudkan.
  2.  Sebuah batas waktu (timeframe) kapan bentuk ekonomi ideal tersebut ingin dicapai.
  3. Beragam Kebijakan dan Strategi serta Badan Pelaksana/ Pendukung. Struktur. Sumberdaya yang Diperoleh. Dialokasikan untuk mobilisasi.
  4. Kampanye dan promosi bahwa kebijakan serta strategi ekonomi dilaksanakan dengan benar dan efektif.

Strategi Ekonomi adalah bagian dari kajian Imu Ekonomi terutama menyangkut kebijakan ekonomi makro adalah unik luas dan diperlukan kajian yang mendalam bertujuan untuk mencapai tujuan ekonomi yakni mernciptakan pertumbuhan (growth) dan kesejahteraan ekonomi (prosperity).

Studi ilmu ekonomi secara de-facto telah dimulai sejak lama beberapa catatan klasik merujuk pada ilmu ekonomi klasik yang di inisiasi oleh ekonom ilmu ekonomi klasik yakni Adam Smith dengan bukunya The Wealth of Nation pada abad ke-18 bersamaan dengan masa Revolusi Industri di Inggris dan wilayah Eropa lainnya yang sedang mengalami booming ekonomi industri.

Teori ekonomi Adam Smith menekankan pada kebebasan individu dalam melakukan transaksi pasar dan pengelolaan ekonomi serta meniadakan campur tangan pemerintah dalam aktifitas perekonomian.

Prinsip kebebasan individual dipercaya sebagai daya dorong untuk membentuk postur equilibrium ekonomi terbaik dan ini menjadi dasar prinsipal perjalanan ekonomi kapitalis hingga saat ini.

Berdasar teori ekonomi Adam Smith. role dari pada ekonomi berdiri atas prinsip kebebasan individu menjadi basis dasar (underlying) dan meng-inspirasi semua aspek kegiatan ekonomi masyarakat dan men-driving aktifitas ekonomi dunia modern sepertinya berhasil dengan baik dengan di pimpin implementasi ekonomi kapitalis oleh negara negara barat terkemuka seperi Inggris dan Amerika.

Pertanyaannya saat ini adalah apakah ada yang melaksakan ekonomi Adam Smith secara murni dan puritan kenyataannya sepertinya tidak ada. Dalam aspek basis kebebasan individu ide tersebut diterima sebagai ide basis tetapi perkembangan pelaksanannya perekonomian saat ini berjalan menjadi sangat pragmatis dan menerima sesuatu yang baru jika dinilai mampu untuk mempercepat pencapaian ekonomi pertumbuhan (growth) dan kemakmuran ekonomi (prosperity).

Strategi ekonomi berdiri atas topangan dan dukungan pemerintah baik dalam dalam tahap meramu kebijakan dan merekayasa strategi ekonomi yang dtempuh karena pemerintah berkepentingan dan mengambil tanggug jawab agar ditahapan pelaksanaan tercipta postur ekonomi yang lebih baik dan berimbang.

Strategi ekonomi menurut Bruce R.Scott adalah bentuk intervensi pemerintah dalam perekonomian suatu daerah (region) masuk dalam koridor penting terdiri dalam 3 (tiga) aspek penting dan menjadi dasar ilmu ekonomi yakni aspek i) Suplai (Supply). ii) Permintaan (Demand) dan iii) Distribusi (Distribution) (sebagai pipe line atau jembatan yang menghubungkan kedua aspek sebelumya yani Suplai (Supply) dan Permintaan (Demand).

Bruce R. Scott (Harvard University) menyatakan inti dari isu strategi ekonomi adalah berdasar pada intervensi pemerintah dengan melakukan rekayasa termasuk Disain. Rencana. Simulasi. Eksekusi dan Monitoring menekankan pada tiga aspek koridor sebagai berikut (untuk mendapatkan performa ekonomi lebih baik:

  1. Intervensi koridor Suplai. Melakukan intervensi dan memberi pengaruh pada aspek Volume. Struktur dan Waktu Suplai.
  2. Intervensi koridor Permintaan. Melakukan intervensi dan memberi pengaruh pada aspek Volume. Struktur dan Waktu Permintaan.
  3. Intervensi koridor Distribusi. Melakukan intervensi dan memberi pengaruh pada aspek Volume. Struktur dan Waktu Distribusi. Monitoring Jaringan Rantai Pasok. Rute Rantai Pasok. Stock point (Pipeline) distribusi untuk memastikan Koridor Suplai dan Koridor Permintaan terhubung.

Membangun ekonomi tetap pada baseline asumsi bahwa pengaruh teori ekonomi Adam Smith dimana melakukan minimalisasi bentuk intervensi pemerintah pada yang saat sama intervensi pemerintah di perlukan dan dinyatakan sebagai bentuk stimulus dan katalisator untuk melakukan rekayasa dan intervensi pada koridor Suplai.

Demand dan Distribusi diperlukan energi besar dan otoritas yang legal yang hanya dimiliki oleh sutau badan salah satunya intervensi pemerintah terhadap ekonomi makro salah satunya dengan i) Menyederhanakan Perijinan. Ii) Kebijakan Keringanan Pajak. Iii) Suku Bunga Rendah. iv) Inflasi yang terkendali dan v) Memperkecil Pungutan- Pungutan lainnya agar sektor ekonomi ril dan sektor swasta terhidupkan sekaligus mendorong sektor privat diberi keluasaan lebih luas untuk turut serta dalam strategi ekonomi dan bukan dominan sepenuhnya oleh badan –badan pemerintah.

BUMN dan BUMD diharapkan postur ekonomi terbaik mencakup didalamnya pertumbuhan (growth) dan kemakmuran ekonomi (prosperity) dapat diwujudkan di dalam suatu daerah (region) tertentu.

Strategi ekonomi berbeda disetiap daerah

Sebuah visi dan tujuan ekonomi yang ingin dicapai dimungkinkan berbeda di setiap daerah karena latar belakang budaya dan ketersediaan resources. Ini menjadi dasar alasan mengapa perbedaan strategi ekonomi itu muncul berdasarkan alasan ketersediaan resources berakibat proritas tujuan yang ingin dicapai sekalgius karena sebab ketersedian resources menjadi suatu keunikan daerah tertentu seta menjadi karakter dan ciri khas sebagai contoh strategi ekonomi daerah nelayan tentu berbeda dengan daerah agraris.

Ketersediaan resources menjadi karakter pembeda dan pemerintah setempat melakukan intervensi terhada koridor Suplai. Deman dan Distribusi untuk meningkatkan pertumbuhan (Growth) dan Kemakmuran Ekonomi (Prosperity) serta Keunggulan Komparatif suatu daerah.

Studi dengan melakukan integrasi konsep Strategi Manajemen i.e SWOT Analysis menggali dari sisi faktor internal seperti ketersediaan sumberdaya (Resources) meliputi faktor Kekuatan/ Keunikan (Strenght) dan Kelemahan (Weakness) dan faktor eksternal seperti Ancaman (Treatment) Kompetisi dan Kesempatan (Opportunity) ini perlu dilakukan oleh pengambil kebijakan sebagai data masukan untuk mengetahui posisi geoekonomi suatu daerah tertentu.

Strategi ekonomi suatu kerangka berfikir (thinking framework)

Kajian ini melakukan investigasi seperti yang dilansir oleh PMCA Consulting berfokus pada studi dampak (impact) dengan melakukan analisis koridor ekonomi yang telah disebutkan sebelumnya yakni faktor Suplai. Demand dan Distibusi.

Studi untuk mendapatkan data dan nformasi secara lebh jauh bagaimana pemerintah melakukan intervensi strategi ekonomi makro melalui sejumlah kebijakan penetapan strategi Pertumbuhan (PDB). Suku Bunga. Inflasi dan Peredaran Uang agar menghasilkan perfroma ekonomi lebih baik.

Satu. Perlu dipertimbangkan bahwa Strategi Ekonomi adalah sekumpulan Cara (set off). Metode atau Strategi untuk memompa (boost) Pertumbuhan Ekonomi dengan melakukan intervensi faktor Suplai memalui sejumlah kebijakan pemerintah mengatur tata suplai perdagangan dan stok salah satu contoh kebijakan suplai komoditas lewat Bulog atau kebijakan suplai ketersediaan air lewat Perseroda PDAM ataupun membantu UMKM dengan meningkatkan kapasitas produksinya atas komoditas- komoditas unggulan dan menjadi ciri khas derah tertentu contoh Pemerintah Sukabumi melakukan dan mengatur kembali ketersediaan bahan baku untuk mendukung industri UMKM Kue Mochi sekaligus mengatur mekanisme harga dan tata niaga domestik agar pengusaha UMKM Kue Mochi terlindungi harapanya dalam jangka panjang akan menjadi ciri khas.

Menjadi karakter dan remarkable produk unggulan daerah tersebut menjadi Keunggulan Komparatif (Comparative Advanatage).

Kedua. Strategi ekonomi diperlukan disebabkan alasan bahwa pertumbuhan (growth) dan kemakmuran ekonomi (properity) adalah suatu yang terrus bergerak (shifting) dan terus mendorong agar ekonomi berjalan sesuai platform dan berkelanjutan dan ini menjadi struktur kebijakan untuk mewujudkan kemakmuran ekonomi yang ingin dicapai melaui membangun keunggulan kompartif daerah tertentu melaui aktifitas industri dan perdagangan.

Keunggulan Komparatif menjadi titik balik mengapa strategi ekonomi suatu derah mungkin berbeda dengan yang lain seperti yang telah dicontohkan sebelumnya daerah dengan sumberdaya perikanan melimpah seperti Sukabumi bagian selatan berbeda dengan daerah yang memiliki ketersediaan sumberdaya agaris seperti Cianjur pemerintah derah setempat beusaha melakukan intervensi dan menjadikan daerah tersebut unik dan unggul secara kompetitif (Comparative Advantage) bahkan dalam aspek lebih dalam Pemerintah diidorong untuk membangun tata niaga yang bisa melindungi produsen setempat dan melakukan penelitian dan pengembangan (R&D) yang memungkinkan melahirkan produk turunan lainnya tidak hanya semata produksi perikanan Ikan Mentah tetapi kebijakan modernisasi suplai output ke arah fabrikasi produk ikan olahan lainnya.

Ketiga. Ideologi dan Budaya suatu daerah memungkinkan Strategi ekonomi yang diambil suatu daerah berbeda dengan daerah lainnya ini menyangkut pembangunan budaya dan sejarah panjang suatu derah tertentu sekalgius menjadi dasar ideologi dan aspirasi social yang di anut contoh mungkin suatu derah tidak terlalu menganut ekonomi liberal ataupun ekonomi kiri tetapi lebih mengadopsi straregi ekonomi yang pragmatis sesuai budaya setempat.

Pertanyaannya apakah ketika menganut ekonomi kapitalis akan menjadi lebih efektif secara hasil performa ekonomi dalam mencapai Pertumbuhan (Growth) dan Kemakmuran Ekonomi (Prosperity) dari pada sistem ekonomi kiri (Marxis) sayangnya saat ini tak satupun negara secara murni menganut ekonomi kapitalis dan ekonomi marxis seperti Russia dan China saat ini.

Sejarah membuktikan keruntuhan ekonomi Uni Soviet karena dasar bangunan ekonomi Marxis dalam melakukan transaksi di pasar hilang diambil alih oleh negara.

Strategi ekonomi Keynesian

Keynesian mem-plot strategi ekonomi berdasarkan pada postulat bahwa intervensi pemerintah diperlukan dalam ekonomi makro. Pemikiran ini dilatar belakangi berdasarkan peristiwa sejarah dimana Inggris mengalami situasi ekonomi lesu ‘malaise’ dan depresi pada tahun 1930-an yang kemudian dikenal sebagai ‘Great Deppression’ Krisis Ekonomi Besar yang dicirikan dengan angka pengangguran tinggi yang melanda Ingggris akibat kehilangan pekerjaan dan ketiadaan pekerjaan saat itu kemudian mendorong pemerintah Inggris untuk melakukan terobosan kebijakan ekonomi yang menjadi bagian dari pada strategi ekonomi saat itu melalui intervensi dengan cara mempengaruhi angka Aggegat Permintaan (Demand Interverence) melalui sejumlah paket stimulus termasuk menggelontorkan sejumlah uang atau lebih dikenal ‘bailed out’ untuk membangun sejumlah proyek infrastruktur pelayanan publik dan sejumlah langkah kebijakan stimulus ekonomi lainnya salah satunya lewat relaksasi fiskal yang kemudian langkah-langkah pemerintah Inggris ini ternyata berhasil menghidupkan kembali ekonomi sektor ril yang sempat lesu dan meningkatkan pendapatan masyarakat yang berujung merangsang agregat permintaan dan konsekuensinya mempengrauhi agregat suplai.

Kemudian Keynesian menyimpulkan dan merekomendasikan bahwa sudah menjadi kewajiban pemerintah untuk melakukan intervensi ekonomi dalam kebijakannya dan menjadi bagian daripada strategi ekonomi secara intensif dan terus melakukan promosi tentang strategi ekonomi yang dilaksanakan akan memberi respon terhadap faktror agregat permintaan dan sekaligus agregat suplai dan bergerak pada kurva equilibrium ekonomi optimum dengan sendirinya sesuai teori ekonomi klasik mengenai hukum transaksi suplai dan demand.

Dan ini menjadi baseline dasar utama strategi ekonomi Keynesian melaui esensial- nya intervensi pemerintah terhadap faktor Agregat Suplai dan Agragegat Demand dalam upaya mengenjot kinerja dan hasil ekonomi makro yang di koneksikan dengan factor Distribusi yang baik sebagai penghubung Agregat Suplai dan Demand tersebut.

Strategi ekonomi pada masa krisis

Beberapa indikasi mayor yang menunjukkan ekonomi memasuki masa depresi atau krisis salah satunya adalah penurunan (slowdown) kinerja eknomi makro dan ekonomi pembangunan dan memberi dampak gangguan ‘disruption’ atau destabilisasi bagi suatu daerah adalah sebagai berikut :

1. Sejumlah pabrikan mulai merumahkan dan memberhentikan secara masal para karyawannya dan melakukan revisi serta penurunan kapasitas prosuksi secara masif.

2. Insitusi per-Bank an mulai memperketat pengelontoran pinjaman karena bank mulai melihat sejumlah Debitor mulai kesulitan menjalan pembayaran hutang jangka pendek dan meminta sejumlah penjadwalan ulang pembayaran hutang pinjaman.

3. Meluasnya situasi Jatuhnya Kemampuan Daya Beli (fall power to purchase) sehubungan anjloknya pendapatan masyarakat terutama pendapatan masyarakat berpenghasilan harian atau masyarakat bawah.

4. Penurunan tajam angka agregat permintaan komoditas konsumsi hingga ke dasar (bottom) membuat postur ekonomi terganggu dan berkembang menjadi resesi ekonomi jika tidak di perbaiki akan berdampak secara jangka menengah dan jangka panjang.

Sektor yang terdampak akibat krisis ekonomi pandemik virus

Menurut Andry S. Nugoroho peneliti ekonomi INDEF mengatakan sejumlah sektor yang paling terdampak negatif akibat pandemic virus korona salah satunya adalah sektor Pariwisata Pehotelan dan Restoran data menunjukkan akani

i) Terjadi penurunan tingkat Okupasi Hunian Kamar Hotel terjun signifikan ke angka 25- 50% rata-rata dan

ii)rate atau tarif Hunian Kamar Hotel turun hingga angka 10-25% rata-rata serta

iii)revenue atau pendapatan sektor ini terjun ke angka 25-50% termasuk penurunan di sektor bisnis restoran juga terjun ke angka 25-50% dan angka- angka tersebut bukan merupakan angka yang kecil dalam suatu sektor industri sudah merupakan indikasi collapse.

Beberapa daerah yang mengandalkan pendapatan daerahnya domina dari pajak sektor bisnis Travel. Hotel dan Restoran serta sektor bisnis turunannya seperti para Pengrajin Kerajinan dan Perdagangan Sovenir seperti di daerah Lombok dan Bali adalah daerah yang paling terkena dampak dan bahkan mungkin mereka akan menempuh jalan yang tidak favorable seperti merumahkan dan menghentikan sejumlah karyawan mereka secara masal.

Beberapa hal yang menjadi faktor penekan kinjera beberapa perusahaan:

1. Mereka harus tetap mengalokasikan fixed cost belanja mereka terhadap sejumlah karyawan yang dirumahkan seperti gaji bulanan. THR dan Asuransi Kesehatan dan Ketenagakerjaan.

2. Belanja tetap atas pengeluaran fixed cost Operation Expense (Opex) seperti Logisitk Rantai Pasokan. Stock. Listrik. Gas dan Maintenance Sejumlah Asset.

3. Pengeluaran tetap atas kewajiban terhadap pihak ketiga seperti Pajak. Royalti Leasing dan pembayaran atas Pinjaman Bank beserta bunga.

Beberapa perusahan ditengah penurunan kapasitas produksi dan penuruanan keuntungan (revenue) baik industri manufaktur dan sejumlah usaha perdagangan termasuk jasa transportasi melalui asosianya mengajukan kepada pemerintah melakukan sejumlah langkah negosiasi seperti untuk meminta penjadwalan ulang atas kewajiban belanja- belanja tersebut.

Andry S.Nugroho menggambarkan dampak dari pandemik virus corona sebagai sesuatu yang dramatis atas dasar hal tersebut sudah saatnya Pemerintah melakukan intervensi melaui sejumlah terobosan kebijakan sebagai bagian dari strategi ekonomi ditengah kondisi ekonomi yang melambat bahkan krisis.

Berapa analis ekonomi memprediksi kondisi ekonomi yang melambat bisa berlanjut kedalam trend kuadran pertumbuhan ekonomi yang negative diperlukan manajemen risiko untuk meng-asses dampak terburuk (worst case) dan skenario jalan keluar sebagai bagian dari strategi ekonomi untuk menghindari kegagalan (failure) ekonomi makro.

Diperlukan sejumlah kebijakan strategi ekonomi untuk menahan laju terjun bebas performa ekonomi melalui paket-paket yang bersifat terobosan kebijakan ekonomi yang ‘tidak biasa’ melalui intervensi kebijkan ekonomi makro yang mumpuni diperlukan kerjasama koordinasi diagonal pemangku kepentingan seperti Pemerintah Daerah.

Universitas. Peneliti (Komite Ekonomi bisa dibentuk untuk membuat dan melaksanakan sejulah kebijakan ekonomi yang bersifat terobosan untuk kurun waktu tertentu) dan peran serta masyarakat secara pro aktif dan konsisten.

Postur Ekonomi Jawa Barat

Jawa Barat secara georgafi adalah suatu daerah di sebelah barat pulau jawa merupakan bentangan alam yang cantik dan subur sebab dikelilingi sejumlah gunung berapi dan merupakan kawasan cenderung dengan hamparan dan kontur topografi vulkanologi dan merupakan kombinasi unik

i) Kawasan sebelah Utara dan Timur Laut Jawa Barat adalah kawasan topografi dengan land scape flat dibatasi Laut Jawa dengan mata pencaharian utama sebagai nelayan di daerah pesisir utara sekaligus kawasan agararis dengan hamparan pematang sawah tanaman padi yang rata dan lurus membentang dari timur Jawa Barat meliputi Cirebon. Indramayu. Majalengka. Subang. Karawang hingga Bekasi dan berbatasan langsung dengan propinsi DKI Jakarta dan Banten disebelah Barat dan Jawa Tengah di sebelah timur.

ii) Kawasan sebelah Selatan dan Barat Daya Jawa Barat cendurung berbukit bukit di dominasi kawasan pesawahan dan perkebunan serta dikelilingi oleh pegunungan seperti Bogor. Sukabumi. Cianjur. Bandung. Sumedang. Garut dan Tasikmalaya dengan ketinggian pegunungan hingga mencapai 1500 DPL juga merupakan kombinasi kawasan dengan mata pencaharian sebagai nelayan dengan kampung nelayan di sebelah selatan seperti Sukabumi selatan atau Pelabuhanratu dan Pangandaran langsung berhadapan dengan Laut Hindia di sebelah selatan merupakan kawasan dengan tebing-tebing yang curam.

Jawa Barat adalah bagian dari kawasan vulcanologi aktif (Ring of Fire) dan mempunyai tingkat risiko kemungkinan bencana tinggi akibat letusan gunung berapi sebagai bagian dari Lempeng Pacfific sebagai (Ring of Pacific) yang membentang dari ujung barat pulau Sumatera hingga ke ujung utara pulau Sulawesi.

Berdasarkan data Biro Pusat Statistik ekonomi makro Jawa Barat pada Quartal-II 2019 Pertumbuhan Ekonomi mencapai 5.68% (YoY) ini berarti naik sedikit dibanding dengan QuartaI-I 2019 yang tumbuh mencapai 5.40% (YoY) dimana aktifitas ekonomi domestik menjadi faktor pemicu (catalisator) dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat tetapi Pertumbuhan Ekonomi tersebut melambat pada Quartal-III 2019 dimana mencapai 5.3% (pesimistik) – 5.7% (optimistik) ini disebabkan

i) terjadinya laju penurunaan angka eksport

ii) pengetatatan belanja pemerintah setempat dan

iii) peningkatan laju angka import yang cenderung meningkat karena tuntutan angka permintaan konsumen atas komoditas sehubungan Lebaran dan Tahun Baru dan isu stabilisasi harga sejumlah komoditas penting seperti komoditas bahan baku dan pertanian dan (agricultural and live stocks) yang belum bisa dicukupi oleh pasar domestik.

Sedangkan untuk Tren Angka Inflasi situasi Perekonomian di Jawa Barat cenderung fluktuatif namun dalam kurun waktu terakhir pada Quartal-II 2019 Inflasi mencapai 3.48% (YoY) lebih tinggi sedikiti dari pada Quartal sebelumnya dimana pada Quartal-I 2019 Inflasi mencapai 2.42% (YoY).

Secara keseluruhan pada ujung tahun 2019 data Inflasi Tahunan Perekonomian Jawa Barat lebih tinggi dari pada data angka inflasi nasional yang mencapai 3.28%.

Beberapa sektor yang menjadi faktor penyumbang angka inflasi tersebut itu muncul berdasarkan figur di atas seperti yang telah disebutkan sebelumnya yakni komoditas Bahan Baku dan Pertanian (Agricultural and Livestocks).

Kebutuhan Pasokan Listrik. Air. Gas dan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Kebutuhan Alat-Alat Rumah Tangga baik yang bersifat musiman seperti karena perayaan Lebaran Ramadlan dan Tahun Baru ataupun Kebutuhan Rutin Harian.

Rasio Pinjaman Terhadap Deposit (Loan to Deposit Ratio [LDR]) tercatat mencapai angka sekitar 91,10% dimana terjadi penurunan jika dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dimana Rasio Pinjaman Terhadap Deposit atau LDR mencapai sekitar 93,07%.

Transaksi non cash melalui RTGS mengalami penurunan baik secara volume dan kuantitas amount sehubungan dengan meningkatnya risiko ketidak pastian akibat iklim tensi politik sehubungan peristiwa penyelanggaraan Pemilihan Umum Presiden ditengarai beberapa investor menahan (hold up) rencana ekspansi usaha bisnis mereka.

Lebih jauh jika menggunakan dasar referensi data PDRB (Produk Domestik Regional Bruto) secara keseluruhan di propinsi Jawa Barat (menurut BPS Propinsi Jawa Barat dalam website Bisnis.com tanggal 05 February 2020 oleh Dea Andriyawan dikatakan bahwa Perekonomian Jawa Barat berdasarkan PDRB atas dasar harga berlaku tahun 2019 mencapai IDR. 2.125.16 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai IDR.1.491.71 triliun.

Pandemik Virus Corona memukul Perekonomian Jawa Barat (dalam Perspektif Strategi Ekonomi)

Propinsi Jawa Barat adalah propinsi kedua setelah propinsi DKI Jakarta rekor pandemik penyebaran Virus Corona yang melanda di Indonesia bahkan Dunia tercatat ini menjadi konsekuensi sebab Jawa Barat secara geografis adalah wilayah yang bersentuhan langsung (Inter Section) dengan Propinsi DKI Jakarta serta menjadi salah propinsi penyangga (Buffer Zone) Ibu kota ini meliputi Bekasi disebelah timur kemudian Depok dan Bogor disebelah selatan baik Bekasi. Depok dan Bogor sekarang di indikasikan sebagai Zona Merah (Red Zone) peta sebaan pandemik virus corona.

Pandemik Virus Corona di Jawa Barat mewabah secara masif dan menganggu aktifitas-aktifitas pereekonomian dan membawa propinsi ini dalam situasi sulit dengan menggunakan data dot matriks peta sebaran pandeik virus corona dimana data adalah data yang diambil dari Pusat Informasi dan Koordinasi COVID 19 Jabar (PIkobar) menggambarkan peta sebaran pandemik virus corona di propinsi Jawa Barat saat ini.

Lebih dalam berdasar data Pikobar per 9 April 2020 secara umum peta sebanyak 366 orang terindikasi positif ter-infeksi dan sembuh sebanyak 17 orang dan yang meninggal sebanyak 35 orang dimana data tersebut di kontribusi darai semua daerah Kota dan Kabupaten di Jawa Barat meliputi:

1. Kota Bandung diperoleh 50 orang terindikasi positif ter-infeksi 143 orang sedang dalam Proses PDP dan 621 orang dalam keadaan Proses ODP 5 orang sembuh dan yang meninggal 12 orang.

2. Kedua Kota Depok ditemukan 38 orang terindikasi positif ter-infeksi 500 orang sedang dalam Proses PDP dan 1949 orang dalam kedaan Proses ODP 7 orang sembuh dan 2 orang dinyatakan meninggal.

3. Ketiga Kota Bekasi ditemukan 37 orang terindikasi postif ter-infeksi 228 orang sedang dalam Proses PDP 435 orang dalam keadaan Proses ODP dan 1 orang dinyatakan meninggal.

4. Keempat Kota Bogor ditemukan 36 orang terindikasi postif ter-infeksi 40 orang sedang dalam Proses PDP 418 orang dalam keadaan Proses ODP dan 6 orang dinyatakan meninggal.

Tren data Pikobar menujukkansebaran penderita akibat pandemik virus corona yang kecenderungannya terus naik secara akumulatif sehingga atau bahkan pemerintah Propinsi DKI Jakarta akan melakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) terhitung Jumat 10 April 2020 dan kemungkinan diikuti sejumlah daerah penyangga yakni Propinsi Jawa Barat secara parsial hanya berlaku beberapa Kota dan Kabupaten di Jawa Barat yang langsung ber-intersection dengan Propinsi DKI untuk menghentikan laju sebaran pandemik virus corona.

Strategi Ekonomi ditengah Kelesuan akibat Pandemik Virus Corona

Pengambil kebijakan strategi ekonomi Jawa Barat sepertinya perlu mengkaji ulang sejumlah rencana skala prioritas strategi ekonomi yang telah diputuskan sebelumnya sebagai bagian dari mitigasi manajemen risiko strategi sehubungan peruabahan situasi ekonomi saat ini ditengah kelesuan aktifitas perekonomian yang terus mengalami perlambatan seperti revisi Pertumbuhan Ekonomi akibat sejumlah pabrikan merevisi dan menurunkan kapasitas produksi disebabkan kekuatiran paparan virus corona mewajibkan sejumlah pabrikan untuk merumahkan sejumlah karyawan.

Harga harga kebutuhan yang merangkak naik akibat kelangkaan pasokan dan konsekuensi ekonomi lainnya seperti tekanan cash flow belanja Perusahaan agar tetap maintain Opex (Opearating Cost) dan Kewajiban Gaji Bulanan dan THR serta Kewajiban Kepada Pihak Ketiga seperti Kewajiban Pembayaran Hutang Jangka Pendek.

Bunga dan Asuransi. Sejumlah alasan tersebut akan membuat situasi ekonomi makro yang terus tertekan dan mungkin mengakibatkan pertumbuhan ekonomi yang negatif.

Antisipasi atas skenario terburuk dengan mengkaji ulang strategi ekonomi untuk memutar balik (turning around) pada saat momentum dimana situasi perekonomian menunjukan perlambatan indicator untuk tetap memelihara keberlajutan (sustaining) Ekonomi Makro propinsi Jawa Barat tetap berjalan salah satunya dengan tetap

i) Siaga Penuh dan terus memonitor perkembangan perkeonomian secara umum

ii) Membangun strategi ekonomi yang sifat nya mulit layer atau multi opsi dan terus membuka jalan keluar untuk mempersiapkan scenario terburuk dengan mitigasi manajemen risiko kegalan strategi ekonomi layer 1 dan tetap ada opsi layer 2 melalui kontinyuitas kebijakan stimulus fiskal dengan Merelaksasi Pajak.

Menjadwal Ulang schedule Pembayaran Hutang Jangka Pendek. Pricing Strategi melalui Subsidi Silang dan Kontrol Harga komoditas penting adalah sejumlah cara jalan keluar dari berbagai layer atau opsi-opsi kebjakan stetagi ekonomi yang akan diambil.

Ini menjadi relevan sebab dimana diceritakan sebelumnya dari Andry S.Nugroho salah satu konsekuensi yang muncul seperti kelesuan sektor Pariwisata termasuk didalamnya sejumlah Industri Turunan-nya seperti Kerajian UMKM dan Sovenir seta Manufaktur termasuk di Propinsi Jawa Barat akan terkena dampak.

Pemerintah diminta terlibat dengan melakukan intervensi sejumlah kebijakan ekonomi recovery terobosan ditengah kelesuan aktifitas perekonomian dengan meng-integrasikan kebijakan strategi ekonomi nya dengan Pemerintah Pusat secara vertical seperti Menteri Koordinator Perekonomian.

Menteri Keuangan Indonesia dan terus melanjukan kebijakan strategi ekonomi yang proaktif. Terencana dan terkendali. Sejumlah strategi ekonomi yang bisa diambil untuk tetap menjaga aktifitas perekonomian Propinsi Jawa Barat ditengah kelesuan akibat pandemik virus corona adalah sebagai berikut :

1. Fiscal Strategy. Strategi Kebijakan Fiskal dengan cara merelaksasi Pajak. Menguruangi atau bahkan meniadakan (Zero) atas sejumlah pajak PPh 21.PPh 25 dan PPn untuk kurun waktu tertentu dengan prioritas di level produsen atau industri yang berdampak langsung kepada masyarakat yakni sektor industri padat karya yang menyertakan jumlah karyawan yang banyak dalam proses produksi industri nya juga sektor –sektor ril seperti UMKM dan Industri Kecil lainnya seperti Kerajinan Olahan Bahan Baku dan Makanan.

2. Insurance Spacing. Menjadwal ulang faktor Asuransi atau dengan cara subisidi Asuransi seperti cicilan BPJS baik BPJS Kesehatan dan Ketegakerjaan untuk kurun waktu tertentu.

3. Insentif. Subsidi silang untuk sejumlah sektor industri padat karya serta fokus pada Kontrol Harga atas komoditas penting dan menjaga ketersedian alat– alat kesehatan dan pelindung diri seperti Masker dan APD. Alat Kebersihan seperti Disinfektan dan Hand Sanitizer untuk kurun waktu tertentu. Ini Sekaligus sebagai bagian dari strategi Suplai untuk mengatasi kelangkaan komoditas Alat Alat Kesehatan tersebut dan sekaligus mengendalikan harga.

4. Interest and Intallment Spacing. Memberi ruang yang luas. Menjadwal ulang (flexibility) atas sejumlah kewajiban pembayaran hutang jangka pendek termasuk penghapusan bunga pinjaman untuk sektor industri padat karya.sektor ril dan industri strategis yang berhubungan langsung dengan hajat hidup orang banyak termasuk UMKM. Pengrajin Bahan Baku Makanan dan Olahan untuk kurun waktu tertentu.

Strategi manajemen anggaran juga diperlukan saat pandemic virus corona seperti dengan

i)Realokasi Anggaran

ii)Penambahan Anggaran baru sehubungan kasus emergenci menyangkut bencana kemanusiaan (emergency response) dan

iii) Penghematan Anggaran Rutin Belanja Pemerintah. Proyek dan Program seperti tunjangan seremonial protokoler dan tunjangan pejabat tinggi dikurangi atau didonasikan ke kebijakan penyelamatan dan pengurangan sebaran pandemik virus corona.

Menurut Adi M.Idhom dalam website Tirto.co.id tertanggal 31 Maret 2020 disebutkan sejumlah kebijakan Pemerintah Pusat melalui strategi manajemen anggaran dalam menangani pandemik virus corona adalah sebagai berikut :

  1. Tambahan belanja APBN senilai IDR.405.1 trilliun.
    Meputi sejumlah sektor i)Pengalokasian untuk belanja dibidang kesehatan sebesar IDR.75 triliun. ii)Untuk perlindungan kesehatan sebesar IDR.110 triliun. iii)Untuk insentif fiskal dan stimulus bagi Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar IDR.70.1 triliun dan iv)Untuk pemulihan ekonomi temasuk restrukrisasi kredit dan pembiayaan dunia usaha UMKM sebesar IDR.150 triliun.
  2. Prioritas anggaran di bidang kesehatan.
  3. Prioritas anggaran untuk perlindungan sosial.
  4. Prioritas anggaran untuk insentif dunia usaha.
  5. Prioritas di bidang non fiscal. Dan
  6. Revisi batas maksimal deficit APBN. Serta
  7. Terobosan kebijakan moneter.

Dimana sejumlah kebijkan Pemerintah Pusaat tersebut yang tentu akan diintegrasikan dan diturunkan ke dalam paket sejumlah kebjakan Pemerintah Propinsi Daerah setempat termasuk Propinsi Jawa Barat sebagai bagian dari strategi ekonomi pemulihan perekonomian di masa krisis.

Tags
loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button