“Sebagai kampus islami, kami ingin memberikan kesadaran pangan halal kepada masyarakat, khususnya mahasiswa-mahasiswi kami tentang pentingnya pangan halal,” kata Asep Saefudin.
Menurutnya proses halal bukan hanya cara pemotogan tapi juga ada tata caranya. “Dalam perkuliahan ada mata kuliah tentang prinsip halal dan ada juga yang disisipkan di mata kuliah lainnya,” tuturnya.
Sementara Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UAI, Hidayat Yorianta Sasaerila mengatakan, di tahun pertama penerimaan mahasiswa nanti, pihaknya menargerkan 40 orang di masing-masing prodi.
“Sebagai prodi memang banyak tantangannya, tapi kami yakin diterima masyarakat. Apalagi kebutuhan ahli gizi dan pangan itu memang terus meningkat. Kami juga mendorong anak didik untuk berwirausaha,” imbuh Hidayat.
Berdasarkan izin pendirian program studi yang tertuang pada surat keputusan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi No 1000/KPT/I/2018 untuk Program Studi Gizi dan 986/KPT/I/2018 untuk Program Studi Teknologi Pangan. Maka prodi ini akan memulai menerima mahasiswa baru dan perkuliahan di September 2019 mendatang.
Adapun mata kuliah lain yang dipelajari yakni rekayasa proses pangan, mikrobiologi dan keamanan pangan, pangan dan gizi, manajemen industri pangan, pengemasan pangan, pengeringan dan pendinginan, teknologi teh, kopi dan coklat.





