PENDIDIKAN

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

×

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

Sebarkan artikel ini

Fasilitator membimbing anak-anak untuk menyusun pertanyaan dasar, mendapatkan data, menganalisis, serta membuat kesimpulan. “Setelah itu, tiap anak presentasi di depan teman-temannya, orang tua, dan fasilitator,” tutur Wahya.
Hasil pembelajaran tersebut digunakan untuk mencapai kompetensi dasar.

Makin tinggi jenjangnya, riset yang dilakukan makin mengerucut. Contohnya, mau jadi seniman, seniman apa? Craft, misalnya. Lebih spesifik lagi, kerajinan dari bahan daur ulang. “Riset tentang bahan bekas yang bisa didaur ulang, pewarnaannya bagaimana, lalu pola pemasaran seperti apa,” urainya.

Bank bjb Tandamata

Pada tingkat SMA, tiap anak sudah membuat karya. Ada yang punya produk tas sablon dari pewarna alami. Ada yang membuat kerajinan dari kain perca. Ada pula yang menjadi make-up artist.
Salah satunya Ni Made Vena Indira, murid Salam yang kini duduk di kelas X SMA. Pemilik sapaan Vena itu menjadi murid Salam sejak kelas III SD. Sebelum didaftarkan ortu untuk masuk Salam, dia sempat berhenti sekolah di kelas I dan II.

“Gak cocok soalnya,” ucap Vena, yang kini berusia 17 tahun.
Di Salam, dia mengambil fotografi, kemudian bahasa Korea, dan sekarang berfokus mengambil riset tentang make-up.
“Saya pengin jadi make-up artist,” ucapnya. Vena menceritakan, sekolah di Salam mulai Senin sampai Jumat pukul 08.00 hingga

13.00.
“Bagaimana anak-anak menemukan pola belajar mereka sendiri. Memerdekakan anak dalam belajar,” tambah Wahya. Saat ini jumlah murid Salam 180 anak dengan 48 fasilitator.

 

(*/c11/oki)