PENDIDIKAN

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

×

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

Sebarkan artikel ini

Di Lawen, alumnus Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Jogjakarta tersebut cepat dekat dengan anak-anak. Dia membawa buku-buku bacaan. “Ngumpulnya di pendapa rumah mertua saya. Ada 160-an anak,” katanya.

Pada prinsipnya, anak-anak masih bersemangat sekolah. Tidak ingin menikah dini. Tapi, mereka tidak punya pilihan. Dari pertemuan itu, Wahya melihat, masih banyak yang tertatih-tatih membaca. Padahal, usia mereka setara siswa kelas V atau VI SD.

Bank bjb Tandamata

Namun, mereka bersemangat jika diminta untuk bercerita.
“Itu jadi pintu masuk saya. Anak-anak saya minta mengamati apa yang mereka temui di perjalanan, sorenya didiskusikan,” tutur dia.

Hasilnya membuat dia takjub. Anak-anak tersebut sangat peka dan kritis. Ada yang bercerita, “Tadi aku lewat pasar, ternyata kami punya pasar. Tapi, yang jualan bukan orang sini, kebanyakan orang kota.

Yang dijual juga bukan produk kami.” Yang lain berujar, “Tadi lewat ladang, banyak tanaman seperti pisang, singkong, dan ubi yang busuk, nggak dipanen karena harga jual sangat murah.”

Wahya dibikin takjub oleh anak-anak tersebut. Mereka bisa mengungkapkan pendapat dengan kritis meski masih sulit membaca. Dari situ, muncul gagasan untuk membuat sesuatu. Anak-anak antusias mengolah singkong, ubi, dan pisang jadi ceriping atau sale.