PENDIDIKAN

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

×

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

Sebarkan artikel ini

Hati Sri Wahyaningsih tergugah, karena melihat banyaknya anak putus sekolah dan pernikahan dini di desa sekitar tempat tinggalnya. Kemiskinan jadi akarnya. Dia pun kembali ke desa, dekat dengan anak-anak, mengajak berdiskusi, hingga menemukan metode belajar secara merdeka.NORA SAMPURNA, Bantul

Suatu hari pada 1988 di Desa Lawen, wilayah terpencil di Jawa Tengah. Akses menuju ke sana sulit, listrik belum masuk. Sri Wahyaningsih yang ketika itu baru setahun menikah dengan aktivis LSM Toto Rahardjo mengamati banyaknya anak putus sekolah dan pernikahan dini di desa yang merupakan daerah asal sang suami tersebut.

Bank bjb Tandamata

“Saya keliling SD-SD, banyak murid yang mrotoli. Kelas I-III bisa 50 anak, tapi di kelas V-VI tinggal 8 atau 10. Paling banyak 15 murid,” terangnya saat dijumpai di kediamannya, Nitiprayan, Bantul, Jogjakarta, pada 13 April.
Wahya -sapaan Sri Wahyaningsih- mencoba untuk mengajak warga desa bicara.

Kemiskinan yang menjadi akarnya. “Mereka bilang, buat apa sekolah. Toh, sekolah tidak menjawab apa-apa. Anak-anak nantinya juga jadi buruh pabrik. Pertanian tidak bisa diandalkan,” tutur perempuan kelahiran Klaten, 19 Desember 1961, tersebut. Padahal, Lawen merupakan daerah subur.

Wahya, yang ketika itu bekerja membantu sastrawan dan budayawan Romo Mangunwijaya di Code, Jogjakarta, memutuskan untuk menetap di Lawen. Meski, ketika itu sang suami ditugaskan ke NTT.

“Saya diantar langsung oleh Romo Mangun. Sepanjang jalan, beliau cerita masa perjuangan dan kontribusi masyarakat desa. Itu semakin menguatkan saya untuk kembali ke desa,” kenangnya.