PENDIDIKAN

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

×

Sanggar Anak Alam Sekolah dengan Konsep Membebaskan Anak

Sebarkan artikel ini

Juga, tape dan kerupuk dari singkong.
“Anak-anak minta izin orang tuanya bawa bahan-bahan itu, lalu saya ajak praktik bikin,” kata Wahya.

Awalnya, hasilnya dikonsumsi sendiri. Lalu, anak-anak melontarkan ide untuk menjual hasil olahannya. Selama tujuh bulan, uang yang terkumpul dari penjualan lebih dari Rp 1 juta. Para orang tua pun tertarik untuk ikut beraktivitas.

Bank bjb Tandamata

Terbentuklah rembuk warga hingga kelompok tani, dengan konsep arisan tenaga. Warga yang dulu terjerat rentenir perlahan-lahan bisa terbebas dan menjadi lebih produktif.
Seperti pendekatannya terhadap anak-anak, Wahya meminta para orang tua untuk riset. Warga mendata hasil alam yang belum dioptimalkan. Ada teh dan kopi yang kemudian diolah dan dipasarkan.

“Lama-lama, anak-anak bilang, ‘Kita sudah lama berkegiatan, tapi belum punya nama.’ Terus, ada yang nyebut, ‘Kita anak alam,’” tutur Wahya. Dari situ, muncul sebutan Sanggar Anak Alam yang disingkat Salam. Tanggal 17 Oktober 1988 ditandai sebagai hari lahir Salam.

Dari Lawen, Wahya kemudian pindah ke Kampung Nitiprayan yang merupakan kampung seniman pada 1996. Dia melihat, remaja yang putus sekolah juga cukup banyak. Karena didapuk sebagai ketua RT, pada 2000 Wahya memulai aktivitas pendampingan remaja dengan menyediakan ruang belajar untuk jurnalistik, lingkungan, dan seni budaya.

Melalui kelas jurnalistik, anak-anak belajar berdiskusi, mengasah sisi kritis. Pada kelas lingkungan, mereka belajar mendaur ulang sampah. Untuk seni budaya, dia menghidupkan lagi pesta panen.