Anak-anak yang putus sekolah maupun yang masih bersekolah formal antusias mengikuti pembelajaran.
Tak jarang, anak-anak membawa PR dari sekolah. Dari situ, Wahya mengamati, banyak hal yang kurang relevan dengan kehidupan dan kebutuhan.
“Bagaimana cara bersikap, bagaimana menemukan solusi untuk kehidupan, itu justru nggak muncul,” paparnya. Tebersit ide untuk membentuk sekolah dengan konsep membebaskan anak untuk mempelajari hal-hal yang mereka suka, diawali dari kelompok bermain pada 2004.
Pendidikan tersebut mencakup empat inti. Yaitu, pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya. Mengawali Salam dari rumah kontrakan di tengah sawah, yang dilakukan Wahya menyedot perhatian banyak orang. Pada tahun pertama, banyak yang bergabung sebagai fasilitator, pendamping anak belajar.
Dua tahun kemudian warga mendorong untuk dilanjutkan ke jenjang TK. Berkembang dengan membikin SD pada 2008. Hingga ke jenjang SMP dan SMA. Salam menerapkan Trisentra pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa yang menjadi pusat pendidikan adalah lingkungan keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. “Masuk Salam, yang diseleksi orang tua, bukan anaknya. Karena orang tualah pendidik utama,” papar Wahya.
Berbeda dengan sekolah alam pada umumnya, konsep Salam adalah belajar keseharian, melalui riset, melalui sesuatu yang riil. Salam mengambil kompetensi dasar dari kurikulum. “Selebihnya perspektif pangan, kesehatan, lingkungan hidup, dan sosial budaya tadi,” urainya. Pola riset murid kelas I-III adalah secara bersama-sama dibimbing fasilitator untuk belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Kelas IV hingga SMA, setiap anak mulai melakukan riset dari ketertarikan masing-masing. Ada yang riset tentang makanan, tanaman, obat herbal, make-up, menari, musik, sesuai minat dan bakat tiap anak. Satu kelas dibatasi 15 murid dengan tiga fasilitator belajar.”Jadi, kami nggak berbasis mata pelajaran,” ucap ibu tiga anak tersebut.



