Dia mendengar kabar, kalau Zohri meraih juara satu di kejuaraan itu. Lalu, dia diminta untuk masuk ke Pemusatan dan Latihan Pelajar (PPLP) NTB. Tapi, ayahnya sempat menolak karena tidak ada yang menemaninya di rumah. ”Kalau menjadi atlet PPLP itu kan harus diam di asrama. Nah, ayah saya tidak setuju,” ujarnya.
Lagi-lagi, guru olahraganya Rosida datang ke rumah. Dia meyakinkan ayahnya supaya Zohri diizinkan ke PPLP. ”Saya tidak tahu bahasanya ibu Rosida sehingga ayah saya melunak dan mengizinkan Zohri ke PPLP,” ceritanya.
Zohri pun masuk PPLP pada pertengahan 2016. Dia mendengar bahwa Zohri mendapatkan medali perak di kejuaraan nasional atletik antar PPLP. ”Saya dan ayah, bangga sekali mendengarnya,” ujarnya.
Pada akhir 2016, ayahnya yang terkena sakit sesak meninggal dunia. Dia dan Zohri merasa terpukul melihat ayahnya yang terbaring di dipan yang lusuh itu.
”Saya ingat di dipan ini ayahnya saya meninggal. Di sini kedua orang tua saya menghabiskan waktunya bersama,” kata Fadilah dengan perasaan sedih sambil mengusapkan air mata.




