Di kamar tidur, beberapa alat pertanian milik almarhum ayahnya, L Ahmad tersimpan rapi di bawah dipan kasurnya yang telah lapuk. Tempat tidurnya, tak ada kasur empuk. Dipan itu hanya beralaskan tikar lusuh dan selimut. Dinding kamar yang terbuat dari bedek ditempeli koran-koran bekas. Alas dan sekat lemari patah.
Kendati hidup miskin, Zohri tak pernah mengeluh. Bahkan, dia merasa nyaman dengan tempat tidur yang sederhana. “Dulu, kalau dia (Zohri, Red) malas sekolah selalu dicari gurunya. Kalau dicari pasti dia sedang tidur di tempat tidur ini,” bebernya.
Zohri hidup dengan keterbatasan. Kakak pertamanya, Fadilah rela bekerja keras untuk menyekolahkan Zohri. ”Saya dan adik nomor dua, bertekad untuk terus menyekolahkan Zohri,” kata Fadilah.
Semasa sekolah, Zohri sangat pemalas. Dia sangat sulit bangun pagi. ”Tiap pagi, saya selalu capek membangunkannya. Kalau tidak ada uang saku, dia tidak ingin sekolah,” ujarnya.
Sehingga, beberapa kali dia harus dicari gurunya ke rumah. Namun, setiap gurunya ke rumah, pasti Zohri ditemukan dalam keadaan tidur. “Di sinilah, dia tidur kalau dicari sama gurunya,” kata Fadila sambil merapikan dipan tempat tidurnya.
Pada 2015, menjadi tahun yang sangat menyedihkan bagi anak bungsu dari empat bersaudara itu. Ibunda tercintanya, Saeriah meniggal dunia karena penyakit tifus. ”Saya diberikan tanggung jawab sama almarhum ibu untuk menjaga dan menyekolahkan Zohri,” ujarnya.




