Selama enam bulan, Orang Utan Sumatera (Pongo Abelii) itu dirawat layaknya manusia. Makan nasi, lauk pauk, hingga sisa makanan dari pemiliknya. Lumrah, jika kemudian Sapto kekurangan nutrisi. Perlakuannya juga memprihatinkan.
Sapto ditempatkan di sebuah kandang ayam. Bersebelahan dengan ayam yang dijualnya. Karena, sang pemilik juga punya usaha ayam potong. Informasi dari BBKSDA ditanggapi oleh YOSL-OIC.
Mereka langsung bergerak bersama petugas BBKSDA dan Polres setempat. Pemilik kabarnya sempat menolak Sapto disita. Namun akhirnya luluh setelah dijelaskan bahwa Orang Utan adalah satwa dilindungi.
Meski bersedia, pemilik mengajukan syarat. Dia sempat meminta ganti rugi uang perawatan. “Hal seperti ini memang kerap terjadi saat kami melakukan penyitaan. Sebab mereka mengira senang sekali memelihara Orang Utan. Dianggap lucu saat kecil,” ujar Panut.
Setelah negosiaasi yang alot, akhirnya pemilik bersedia melepas kepergian Sapto. Sapto diserahkan dan dibawa sekira pukul 17.00 WIB menuju Kota Medan. Sapto diletakkan dalam boks khusus. Selama perjalanan tidak ada kendala apapun. Meski malnutrisi, Sapto bisa bertahan hidup selama perjalanan yang melelahkan itu.
Berdasar keterangan yang didapat, Sapto setiap malam tidur bersama anak pemilik di dalam rumah. Hanya saat siang saja Sapto dimasukkan ke kandang ayam. “Itu sebenarnya sangat berbahaya. Sebab Orang Utan adalah satwa liar,” lanjutnya.






