Kanker Nasofaring

Oleh dr. Orlena D. Kartika, Sp.T.H.T.K.L.
Dokter Spesialis T.H.T.K.L
RSUD R. Syamsudin, SH. Kota Sukabumi

Kanker nasofaring (KNF) merupakan keganasan yang muncul pada daerah nasofaring (area di atas tenggorok dan di belakang hidung). Kanker nasofaring merupakan salah satu dari kanker terbanyak di Indonesia, berada pada urutan ke-4 setelah kanker payudara, kanker leher rahim, dan kanker paru.

Kanker ini terutama ditemukan pada pria usia produktif (perbandingan pasien pria dan wanita adalah 2,18:1) dan 60% pasien berusia antara 25 hingga 60 tahun, sehingga secara ekonomi, kejadian kanker nasofaring akan mempengaruhi keadaan ekonomi penderita (beserta keluarganya) dan juga mempengaruhi pola pembiayaan kesehatan negara.

Produktivitas penduduk juga akan terpengaruhi. Adanya pengetahuan mengenai kanker nasofaring mulai dari pencegahan, deteksi dini, dan pengobatan yang tepat akan dapat membantu menanggulangi permasalahan akibat kanker nasofaring.

Apa saja faktor risiko kanker nasofaring?

Kanker nasofaring terjadi akibat interaksi antara berbagai faktor. Faktor risiko kanker nasofaring antara lain :

      1. Jenis kelamin

        Kanker nasofaring lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

      1. Ras
        Kanker jenis ini lebih sering mempengaruhi orang-orang di Asia dan Afrika Utara. Di Amerika Serikat, imigran Asia memiliki risiko lebih tinggi dari jenis kanker, dibandingkan orang Asia kelahiran Amerika.
      2. Umur
        Kanker nasofaring dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering didiagnosis pada orang dewasa antara usia 30 tahun dan 50 tahun.
      3. Makanan yang diawetkan

Bahan kimia yang dilepaskan dalam uap saat memasak makanan, seperti ikan dan sayuran diawetkan, dapat masuk ke rongga hidung, meningkatkan risiko kanker nasofaring. Paparan bahan kimia ini pada usia dini, lebih dapat meningkatkan risiko.

      1. Virus Epstein-Barr

Virus ini biasanya menghasilkan tanda-tanda dan gejala ringan, seperti pilek. Kadang-kadang dapat menyebabkan infeksi mononucleosis. Virus Epstein-Barr juga terkait dengan beberapa kanker langka, termasuk kanker nasofaring.

      1. Sejarah keluarga

Memiliki anggota keluarga dengan kanker nasofaring meningkatkan risiko penyakit.

Apa saja gejalanya?

Pada stadium dini tumor ini sulit dikenali. Penderita biasanya datang pada stadium lanjut saat sudah muncul benjolan pada leher, terjadi gangguan saraf, atau penyebaran (metastasis) jauh. Gejala yang muncul dapat berupa hidung tersumbat, keluar darah dari hidung, telinga berdenging, telinga terasa penuh, nyeri telinga, pandangan berganda, gangguan pada saraf wajah dan otot  bola mata, serta muncul benjolan pada leher.

Bagaimana cara menegakkan diagnosisnya?

Pemeriksaan yang dilakukan oleh dokter spesialis T.H.T.K.L pada pasien yang dicurigai menderita kanker nasofaring antara lain :

      1. Anamnesis atau wawancara terlebih dahulu mengenai gejala yang dirasakan oleh pasien, yang terdiri dari gejala hidung, gejala telinga, gejala mata dan saraf, serta gejala metastasis / leher. Gejala tersebut mencakup hidung tersumbat, lendir atau ingus bercampur darah, telinga berdenging, telinga terasa penuh, pandangan berganda, gangguan pada saraf wajah dan otot bola mata, serta munculnya benjolan pada leher.
      2. Pemeriksaan tanda vital, keadaan umum dan pemeriksaan telinga hidung tenggorok kepala leher secara sederhana.
      3. Pemeriksaan nasofaring, dapat dilakukan secara tidak langsung dengan menggunakan kaca reflektor (rinoskopi posterior), ataupun secara langsung dengan alat endoskop (nasofaringoskop) baik yang kaku maupun yang fleksibel.
      4. Pemeriksaan radiologik berupa CT scan/MRI nasofaring tanpa dan dengan kontras yang berguna untuk melihat tumor primer, penyebaran ke jaringan sekitar, dan penyebaran ke kelenjar getah bening. Untuk metastasis jauh dilakukan pemeriksaan foto rontgen toraks (dada), bone scan (pemindaian tulang), dan ultrasonography (USG) abdomen.
      5. Pemeriksaan patologi anatomi
        1. Pengambilan sampel jaringan (biopsi) nasofaring. Biopsi dilakukan dengan menggunakan tang biopsi yang dimasukkan melalui hidung atau mulut dengan tuntunan rinoskopi posterior atau tuntunan nasofaringoskopi kaku atau fleksibel. Hasil biopsi menunjukkan jenis keganasan dan derajat tipe sel. Pengambilan sampel biopsi dari nasofaring dapat dikerjakan dengan bantuan anestesi lokal ataupun dengan anestesi umum. Biopsi nasofaring dengan anestesi umum dilakukan jika biopsi dengan anestesi lokal tidak didapatkan hasil yang positif sedangkan gejala dan tanda yang ditemukan menunjukkan ciri kanker nasofaring, atau suatu kanker yang tidak diketahui primernya (Unknown Primary Cancer).
        2. Biopsi Aspirasi Jarum Halus (BAJH) atau biopsi insisional / eksisional kelenjar getah bening leher, namun pemeriksaan ini bukan merupakan diagnosis pasti.
      6. Pemeriksaan laboratorium atau sampel darah

Ada berapa stadium pada kanker nasofaring?

Pada kanker nasofaring terdapat 4 stadium. Penentuan stadium dapat ditentukan dengan menilai karakteristik dan ukuran massa tumor, kelenjar getah bening yang terlibat, dan metastasis ke organ lain.

Bila sudah terdiagnosa, bagaimana dengan terapinya?

Terapi kanker nasofaring mencakup radiasi, kemoterapi, atau kombinasi keduanya, tergantung pada stadiumnya, dan didukung dengan terapi simptomatik sesuai dengan gejala. Stadium awal hanya dilakukan radioterapi saja, sedangkan stadium lanjut dilakukan kombinasi radioterapi dan kemoterapi. Hasil terapi ini sangat tergantung pada stadium tumor, semakin lanjut stadiumnya, maka semakin berkurang respons terapinya.

Apakah di RSUD R. Syamsudin, SH ada pelayanan pemeriksaan Spesialis T.H.T.K.L?

Iya tentu saja, di RSUD R. Syamsudin, SH memilki 3 dokter spesialis T.H.T.K.L yaitu dr. Orlena Dharmantary Kartika, Sp.T.H.T.K.L, dr. Kote Noordhianta, Sp.T.H.T.K.L., M.Kes, dan dr. Oscar Djauhari, Sp.T.H.T.K.L, FICS yang akan melayani pemeriksaan pasien dengan pelayanan yang berkualitas menggunakan alat-alat canggih dan ditunjang gedung yang nyaman.

Hubungi Kami: Jl. Rumah Sakit No.1 Kota Sukabumi

Telp. (0266)-225180  Fax. (0266)-212988

Email : [email protected]

web : www.rsudsyamsudin.org

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan