KABUPATEN SUKABUMI

Walid Versi Sukabumi: MUI Minta Hukum Tegas dan Pendampingan Korban

×

Walid Versi Sukabumi: MUI Minta Hukum Tegas dan Pendampingan Korban

Sebarkan artikel ini
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, Ujang Hamdun
Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, Ujang Hamdun

SUKABUMI – Dunia pendidikan di Kabupaten Sukabumi kembali diguncang kasus dugaan pencabulan yang menyeret seorang oknum guru berinisial ES di Kecamatan Surade. Kasus ini, yang dijuluki publik sebagai “Walid versi Sukabumi”, memicu keprihatinan dan kemarahan masyarakat, terutama terkait keselamatan anak-anak di lingkungan sekolah.

Sekretaris Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sukabumi, Ujang Hamdun atau yang akrab disapa Uha, menyatakan bahwa kasus ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi juga kejahatan moral dalam perspektif Islam.

Bank bjb Tandamata

“Saya sangat prihatin. Kepada keluarga korban, saya harap tetap sabar. Insya Allah, akan ada jalan terbaik,” ujar Uha saat diwawancarai Radar Sukabumi, Jumat (26/11).

Ia menegaskan pentingnya penegakan hukum yang tegas dan tanpa pandang bulu oleh aparat kepolisian. Menurutnya, perlu dilakukan pendalaman lebih lanjut karena tidak menutup kemungkinan adanya korban lain yang belum berani bersuara.

“Ini bukan hanya melanggar hukum, tapi juga merusak masa depan anak-anak. Kami mendesak Polres Sukabumi untuk memberikan hukuman setimpal. Jangan ada diskriminasi,” tegasnya.

Uha juga menyoroti pentingnya pendampingan psikologis dan sosial bagi para korban. Ia meminta pemerintah daerah, termasuk Bupati dan Wakil Bupati Sukabumi, serta lembaga perlindungan perempuan dan anak, untuk turut mengawal proses pemulihan trauma.

“Anak-anak ini adalah korban. Mereka tidak bersalah. Negara dan masyarakat harus hadir untuk melindungi mereka,” tambahnya.

Lebih jauh, ia menilai kasus ini menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan, khususnya dalam hal pembinaan akhlak. Ia menekankan bahwa pendidikan agama dan moral tidak boleh hanya menjadi formalitas.

“Godaan syahwat bisa menimpa siapa saja. Karena itu, sinergi antara guru, orang tua, dan komite sekolah sangat penting agar lingkungan belajar tetap aman dan bermartabat,” ujarnya.

Uha juga menyerukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan dan pembinaan tenaga pendidik. Ia menanggapi beredarnya rekaman suara yang diduga milik ES, yang meminta dukungan dari para alumni untuk membela dirinya.