Ke depan, Yadi berharap tugu ikan layur tidak hanya menjadi simbol visual semata, tetapi juga menumbuhkan semangat baru dalam menata wilayah. “Kantor itu rumah kedua. Harus dibuat nyaman, rapi, dan tertata. Dari lingkungan yang baik, semangat membangun wilayah juga akan tumbuh,” tegasnya.
Dengan berdirinya tugu ikan layur, Palabuhanratu diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kawasan pesisir, tetapi juga sebagai wilayah yang berani menegaskan identitasnya melalui simbol yang lahir dari kehidupan warganya sendiri.(ndi/d)




