KABUPATEN SUKABUMI

Petani Wangunreja Dambakan TPT Pembatas Sungai

×

Petani Wangunreja Dambakan TPT Pembatas Sungai

Sebarkan artikel ini
Kepala Desa Wangunreja Ali Nurdin bersama sejumlah petani, saat meninjau lokasi pesawahan Cigugur yang kerap diterjang air dari luapan sungai Citalahab.

NYALINDUNG — Puluhan petani di Kampung Cinyumput, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, mendambakan pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) untuk menjaga lahan pertanian padi agar tidak terendam air dari luapan sungai Citalahab.

Pasalnya, sungai yang memiliki lebar sekitar 50 meter itu, bila musim hujan lahan pertanian warga terancam gagal panen. Lantaran, air kerap meluap hingga menerjang puluhan hektare lahan pertanian yang lokasinya berada di samping sungai tersebut.

Bank bjb Tandamata

Seorang petani asal Kampung Cinyumput, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, Mulyadi (45) mengatakan, lahan pesawahan Cigugur yang memiliki luas sekitar 30 hektare dan lokasinya berada di samping sungai Citalahab ini, hampir 30 persen tidak bisa ditanami padi.

Sebab, pembatas lahan pesawahan warga mengalami kerusakan setelah diterjang bencana banjir pada tahun lalu.

“Pembatas sawah dengan sungai Citalahab yang dibangun menggunakan beronjong batu ini, mengalami kerusakan sepanjang 50 meter dengan ketinggian tiga meter. Iya, dampaknya saat ini sebagian lahan pertanian padi tidak bisa digarap, ” kata Asep kepada Radar Sukabumi,  (29/1).

Apabila musim hujan, sambung Asep, para petani di sawah Cigugur, Desa Wangunreja, Kecamatan Nyalindung, terpaksa harus bekerja keras lagi. Lantaran, mereka harus membenahi pembatas sawah yang rusak akibat diterjang banjir dari luapan sungai Citalahab.

“Banyak lahan pertanian di sawah Cigugur yang rusak karena diterjang arus deras sungai Citalahab yang tanggulnya jebol,” imbuhnya.

Hal serupa dikatakan, Nandang Solehudin (45) yang merupakan seorang petani di Desa Wangunreja mengatakan, jika musim hujan tiba, para petani selalu kerepotan karena harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar upah tenaga tukang cangkul yang membenahi pembatas sawah yang rusak karena diterjang banjir.

“Selain pembatas sawahyang rusak, juga banyak bibit tanaman padi yang sudah ditanam di sawah mati membusuk karena terendam air. Para petani terpaksa harus menanam ulang bibit padi yang mati itu karena terendam banjir,” katanya.

Banjir setinggi dada orang dewasa selama berhari-hari berturut-turut menggenangi tanaman padi di lahan peswahan Cigugur yang masih berusia muda sehingga bibit padi itu mati membusuk. Menghadapi banjir, banyak petani di wilayah tersebut, yang hanya bisa pasrah.

“Kami tak bisa berbuat apa-apa, kecuali hanya pasrah,” imbuhnya.

Kepala Desa Wangunreja Ali Nurdin mengatakan, pihaknya memebenarkan terkait kondisi lahan pertanina padi di sawah Cigugur yang kerap dilanda banjir saat musim hujan tiba. Dirinya, mengaku sudah meninjuau lokasi pertanian itu, untuk memastikan kebenaranya.

“Memang kondisi sawah di sana pasti akan terendam banjir, jika musim hujan tiba. Karena, tidak ada TPT maupun beronjong batu untuk pembatas sawah dengan sungai,” katanya.

Untuk itu, pemerintah Desa Wangunreja telah berupaya maksimal untuk menyampaikan aspirasi warganya kepada pemerintah Kecamatan Nyalindung dan pemerintah daerah Kabupaten Sukabumi, melalui permohonan proposal untuk pembangunan TPT di lokasi bantaran sungai Citalahab.

“Saya sudah sampaikan kondisi ini, kepada dinas terkait. Namun, hingga saat ini belum ada jawaban yang jelas. Saya berharap pemerintah dapat segera memberikan bantuan berupa pembangunan TPT untuk pembatas sungai dengan lahan pesawahan warga.

Sehingga ketika musim hujan tiba, para petani tidak merasa khawatir akibat luapan sungai yang dapat mengakibatkan hasil produktivitas pertaninan padinya menurun,” pungkasnya. (den/d)