RADARSUKABUMI.com – SIMPENAN– Memasuki musim penghujan, sejumlah pengrajin gula aren di wilayah Kecamatan Simpenan dan Kecamatan Waluran Kabupaten Sukabumi mengalami penurunan. Pasalnya, sadapan biang gula aren terhambat dengan cuaca, selain susah untuk memanjat ditambah sadapan sering tercampur air hujan.
Informasi yang di rangkum Bah Samsi (65) pengrajin gula aren asal Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan mengatakan, selama musim penghujan hasil produksinya mengalami penurunan. Pasalnya, meski banyak pesanan namun dengan cuaca musim penghujan, membuat kesulitan dalam memasang alat sadapan.
“Pohon aren nya licin kalo musim hujan gini. makanya saya tidak setiap hari memasang alat sadapan, paling sekarang satu minggu dua kali saja, itu pun kalo tidak hujan, “ujar Samsi kepada koran ini, kemarin (17/12).
Lebih lanjut Samsi mengatakan, bahan baku gulan aren yang diambil dari nira yang dihasilkan disetiap pohon kelapa agak sulit karena paktor cuaca hujan yang menentu. Namun gula aren yang kami jual sedikit naik dari harga biasanya.
“Peminat gula aren asli selalu ada yang memesan, apalagi buatan pengrajin seperti kami masih dengan cara tradisonal dalam cara pengolahanya, sehingga rasapun sangat berbeda dengan gula aren yang dibuat denga mesin, “jelasnya.
Samsi mengakui, rata-rata setiap harinya Samsi yang dibantu istrinya Suaebah (50), mampu memproduksi biang nira sebanyak 50 liter, kalo saat kondisi cuaca tidak hujan bisa mencapai 100 liter.




