“Saat ini produksi gula merah yang dihasilkan sedikit menurun, yang biasanya hanya sekitar 100 liter sekarang bisa lebih menurun drastis hingga 50 liter untuk menutupi pesanan juga tidak terpenuhi,”akunya.
Suaebah istri Samsi mengakui, menurunya hasil produksi gula sangat berdampak terhadap pendapatan hasil penjualan gula merah. Saat hari biasa pendapatan rata-rata hasil penjualan gula bisa mencapai Rp 300-400 ribu, namun cuaca musim penghujan hanya bisa mencapai Rp 200 ribu perhari.
“Kendala kondisi cuaca hujan yang paling menyulitkan. Selain sulit mengambil sadapan biang nira diatas pohon kelapa sangat licin. Namun melihat kondisi saat ini harga gula pun sedikit mengalami kenaikan dari harga sebelumnya Rp 25 ribu/kg sekarang bisa Rp 40 ribu/kilo atau perbonjor,”bebernya.
Pengrajin gula aren asal Desa/Kecamatan Waluran Saepurahman (51) mengatakan selama musim penghujan kali ini, pesanan gula akan terus meningkat kemungkinan hasil produksi gula merah akan mengalami kenaikan harga dan pesanan.
Meski kendala para pengrajin sangat kesulitan mengambil biang nira dari atas pohon kelapa karena paktor cuaca. “Saya yakin, melihat cuaca saat ini semua para pengrajin tidak bisa berspukulasi atau berusaha nekad mengambil biang nira ketas pohon dalam kondisi hujan dan licin.
Soalnya jika dipaksakan akan membahayakan dan mengancam keselamatan jiwa, saya mensiasatinya dengan mengambil nira setiap dua hari sekali hingga hasil nira lebih banyak,”tandasnya.
(cr1/d)




