“Buku ini adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan. Jika anak muda bisa melihat kekayaan naskah kuno sebagai sesuatu yang relevan, maka literasi kita akan lebih berakar dan berkarakter,” tambah Aisah.
Mahasiswa UMMI yang hadir pun mengapresiasi kegiatan ini. Mereka menilai bahwa literasi tidak hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga memahami sejarah, seni, dan identitas bangsa.
Diarpus memastikan kegiatan serupa akan digelar secara berkala dengan tema yang beragam. “Tujuannya agar literasi menjadi gerakan kultural yang tidak hanya edukatif, tetapi juga inspiratif dan menyenangkan,” pungkasnya.(bam/d)






