KABUPATEN SUKABUMI

Dari Aksara Lama ke Generasi Muda Sukabumi : Wawacan Perang Lahad Dibedah

×

Dari Aksara Lama ke Generasi Muda Sukabumi : Wawacan Perang Lahad Dibedah

Sebarkan artikel ini
SAMBUTAN : Kepala Diarpus Kabupaten Sukabumi, Hj. Aisah saat memberikan sambutan Bedah Buku di aula Diarpus Kabupaten Sukabumi.
SAMBUTAN : Kepala Diarpus Kabupaten Sukabumi, Hj. Aisah saat memberikan sambutan Bedah Buku di aula Diarpus Kabupaten Sukabumi.

SUKABUMI — Upaya melestarikan naskah kuno dan memperkuat literasi berbasis kearifan lokal terus digelorakan di Kabupaten Sukabumi. Salah satunya melalui kegiatan Bedah Buku yang digelar Dinas Arsip dan Perpustakaan (Diarpus) Kabupaten Sukabumi, bekerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI).

Buku yang dibedah berjudul Wawacan Perang Lahad Varian Jampang Kulon (Translasi, Transliterasi, dan Analisis Awal) karya Moh. Alnoza. Buku ini bukan sekadar literatur akademik, tetapi juga jendela untuk memahami jejak budaya, nilai kepahlawanan, dan kearifan lokal masyarakat Jampang Kulon yang nyaris terlupakan.

Bank bjb Tandamata

Acara yang dipandu oleh Fira Nurvyantika ini dihadiri oleh mahasiswa, akademisi, dan pegiat literasi. Kehadiran penulis buku sebagai narasumber utama memberi warna tersendiri. Ia memaparkan proses panjang menggali naskah kuno, menyalin aksara lama ke tulisan modern, hingga menyajikannya dalam bentuk translasi yang mudah dipahami.

“Warisan sastra lama ini tidak boleh hilang. Naskah kuno bukan hanya dokumen, tapi juga identitas. Dengan memahaminya, kita belajar nilai sejarah, semangat juang, dan jati diri budaya Sukabumi,” ujar Alnoza.

Kepala Diarpus Kabupaten Sukabumi, Hj. Aisah, menegaskan pentingnya menggali dan menghidupkan kembali khazanah literasi berbasis budaya lokal. Ia mengingatkan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya di tengah derasnya arus informasi global.

“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menumbuhkan kecintaan pada literasi yang berpijak pada kearifan lokal. Ini bekal penting bagi generasi sekarang,” kata Aisah, Minggu (14/9).

Acara juga dimeriahkan oleh penampilan Tim Palidulan Eco Art, kelompok seni yang mengemas naskah kuno dalam bentuk pertunjukan. Mereka menghadirkan kreativitas berbasis literasi budaya yang membuat suasana lebih hidup dan menyentuh.

Diarpus berharap kegiatan ini dapat memperkenalkan warisan sastra lama kepada masyarakat luas, sekaligus menjadi inspirasi untuk pengembangan literasi di era modern.