SUKABUMI — Semangat melestarikan budaya sekaligus memberi ruang bagi kreativitas generasi muda menjadi warna perayaan ulang tahun pertama SAFA Studio Dancing. Sanggar tari yang bermarkas di Jalan Ambon Saksan, Kelurahan Subangjaya, Kecamatan Cikole, itu menggelar SAFA Grahita Fest bertajuk “Satu Tahun Energi Tradisi dan Modernitas” dengan menghadirkan beragam perlombaan dan pagelaran seni budaya.
Festival ini tidak hanya menjadi ungkapan syukur atas perjalanan satu tahun sanggar, tetapi juga wadah bagi seniman untuk menampilkan karya terbaik. Rangkaian kegiatan meliputi lomba tari Jaipong tingkat Kota dan Kabupaten Sukabumi yang memperebutkan Piala Bergilir Wali Kota Sukabumi, serta pertunjukan seni budaya seperti debus, barongsai, tari Jaipong, modern dance, hingga kabaret.
Founder SAFA Studio Dancing, Savira Nur Aprilia, mengatakan peringatan hari jadi pertama sengaja dikemas meriah agar menjadi ruang apresiasi bagi pelaku seni. “Acara ini bukan hanya memperingati satu tahun berdirinya SAFA Studio, tetapi juga menjadi panggung bagi para seniman Kota dan Kabupaten Sukabumi untuk bebas mengekspresikan karya-karya mereka,” ujarnya.
Kompetisi tari Jaipong dibagi dua kategori, yakni solo dengan 10 peserta dan rampak dengan tujuh kelompok dari berbagai daerah di Sukabumi. Target peserta adalah pelajar, sehingga festival ini sekaligus menjadi ajang pembinaan generasi muda.
Savira menambahkan, ke depan SAFA Studio Dancing ingin memperluas jejaring kerja sama, termasuk dengan Kementerian Kebudayaan. Saat ini, proses kerja sama masih dalam tahap penyusunan proposal. Harapannya, dukungan kementerian dapat memperkuat eksistensi sanggar hingga tingkat nasional.
Berdirinya SAFA Studio Dancing berawal dari program kerja Savira saat mengikuti Pemilihan Putra Putri Tari Indonesia 2025, di mana ia meraih gelar Putri Tari Indonesia Menginspirasi. Sepulang dari ajang tersebut, ia membuka kelas tari sederhana di rumah tanpa biaya, hingga berkembang menjadi sanggar dengan sekitar 90 anggota.






