Rekaman pertamanya dilakukan di Jackson Record pada 1979. Saat usia pria yang terlahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, dengan nama Abid Ghoffar bin Aboe Dja’far itu baru berusia 25 tahun. Sejak itu dia konsisten berkarya. Sudah 22 album studio yang telah dia lahirkan. Album kompilasi malah lebih banyak lagi: lebih dari 30. ”Negara memberi penghargaan itu. Saya harus merasa bahagia atas penghargaan ini,” ungkap pelantun Camelia yang melegenda tersebut.
Hampir semua lagu yang dia nyanyikan karya sendiri. Kecuali, mengutip Wikipedia, Surat dari Desa yang ditulis Oding Arnaldi dan Mengarungi Keberkahan Tuhan yang ditulis bersama dengan Susilo Bambang Yudhoyono. Konsistensi dia juga terlihat dalam penulisan lirik. Lagu-lagu Ebiet, bisa dibilang, adalah puisi-puisi yang dinyanyikan. Musikalisasi puisi kalau dalam bahasa sekarang.
Suami Yayuk Sugianto itu memang berlatar belakang penyair. Besar dalam asuhan penyair legendaris Umbu Landu Paranggi di kawasan Malioboro, Jogjakarta. Bersama, antara lain, Emha Ainun Nadjib, Eko Tunas, dan E.H. Kartanegara. Lirik-liriknya banyak bercerita tentang alam, keluarga, dan romansa. Lebih khusus lagi tentang alam: kontemplasi atas bencana yang terjadi.
Simak, misalnya, penggalan Untuk Kita Renungkan: Anak menjerit-jerit//asap panas membakar//Lahar dan badai menyapu bersih//Ini bukan hukuman, hanya satu isyarat//Bahwa kita mesti banyak berbenah. ”Kemampuan saya ya hanya seperti ini, memotret keadaan sekeliling saya dan menerjemahkannya dalam musik yang sederhana dan mudah dicerna,” ungkapnya.
Tapi, di waktu lain, Ebiet juga bisa bernyanyi dengan indahnya. Tentang kekasih, tentang cinta. Seperti dalam Camelia 2: Inginku berlari//Mengejar seribu bayangmu Camelia//Tak peduli kau kuterjang//Biar pun harusku tembus padang ilalang.
Menurut Ebiet, kehidupan bermusiknya banyak dipengaruhi cerita masa kecil. Tak pernah tebersit di benaknya jika lirik-lirik yang dituliskannya itu kelak akan membuat namanya besar.



