Menurut Eniya, penyimpanan energi berbahan hidrogen lebih menguntungkan ketimbang baterai. Kekuatan penyimpanan energi berbasis hidrogen lebih kuat sepuluh kali lipat daripada lithium baterai. Eniya telah melakukan serangkaian riset terkait dengan material untuk sumber energi listrik baru itu, yakni hidrogen.
Di antaranya material polimer dan katalis untuk oksigen baterai, fuel cell, produksi biohidrogen, dan elektrolisis. Material-material itu ke depan diharapkan menunjang impiannya yang lain, yakni menciptakan hydrogen city. Konsep kota yang seluruh sumber daya energi kelistrikan dan transportasinya berasal dari energi hidrogen.
Eniya bersyukur mempunyai keluarga yang sangat mendukung proyeknya. Sehingga dia tidak pernah merasa terbebani atau bersalah ketika harus menjalani peran ganda, sebagai ibu sekaligus peneliti. “Yang penting bisa mengatur waktu,” tutur ibu tiga anak itu.
Dia berharap perempuan generasi penerusnya memegang teguh jiwa profesionalisme, tekun dan konsisten dalam bertugas, serta tidak gampang putus asa. “Berkompetisi dengan kaum laki-laki itu bukan suatu halangan,” imbuh deputi kepala BPPT Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material (TIEM) tersebut.
Eniya juga aktif di beberapa organisasi. Di antaranya menjadi ketua umum Himpunan Polimer Indonesia periode 2017-2020 serta presiden Indonesia Association of Fuel Cell and Hydrogen Energy sejak 2015-sekarang. Di tingkat internasional Eniya menjabat board of director International Association of Hydrogen Energy (IAHE) dan Indonesia chapter chair untuk APEC Research Center for Advance Biohydrogen Technology (ACABT).
Sejumlah penghargaan juga pernah dia raih. Antara lain Pahlawati Riset dan Teknologi (2016), Soegeng Sarjadi Award (2014), dan Duta Iptek Indonesia (2012). Dia telah mematenkan tiga temuannya di bidang energi, yakni ThamrinON, bioreaktor hidrogen, dan fuel cell Omaf.



