Hadir pula dalam diskusi itu wikipediawan dan pencinta bahasa Indonesia Ivan Lanin dan penulis sekaligus pemilik Diva Press Edi Mulyono. Juga Kepala Penyelaras Bahasa Jawa Pos Andri Teguh Pryantoro. Remy, barangkali, adalah monumen untuk kemauan dan kecintaan pada bahasa. Tiap kali belajar suatu bahasa, dia akan total mencurahkan waktu dan konsentrasinya.
Misalnya, ketika belajar bahasa Mandarin. Yang dilakukannya setelah menulis Ca Bau Kan, novel yang terbit pada 1999. Pada usia yang telah 56 tahun. Saat masih duduk di kelas V SD, Remy juga telah bisa melukis kaligrafi dalam bahasa Arab. Memasuki seminari, penguasaan bahasanya semakin luas.
Hal itu ditunjang kemauannya untuk mempelajari berbagai bidang. Mulai teater, musik, melukis, sampai sejarah. Untuk bahasa Indonesia, Remy selalu memosisikan dirinya sebagai pengkritik keras Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. ’’Bagi saya, tidak ada itu bahasa yang baik dan benar. Menurut saya, bahasa yang baik dan benar itu frustrasi orang-orang di pusat bahasa,’’ katanya dalam diskusi.
Pernyataan tersebut langsung menuai respons dalam sesi tanya jawab. ’’Kalau kaidah dan lembaga dianggap ngawur, apa jangan-jangan rakyatnya yang ngawur?’’ kata Yani Paryono, peneliti dari Balai Bahasa Jawa Timur, yang jadi salah seorang peserta diskusi.Remy, sembari tetap duduk, langsung menyahut pendek, ’’Ojo nesu.’’
Seketika seisi Ruang Semanggi, Graha Pena, Surabaya, geer, disusul aplaus panjang. Pada aras itu, dalam kaitan dengan Badan Bahasa, Remy memang seperti berseberangan dengan Ivan Lanin. Kalau Remy dari kutub mbeling, Ivan dari poros keteraturan.
Tak heran kalau kemudian ada yang melabeli Ivan sebagai polisi bahasa. Label yang sangat tak disukai alumnus ITB itu. ’’Bisa dibaca di Twitter, saya tak pernah menyalahkan bahasa orang. Saya hanya menawarkan, ini lho kaidahnya. Silakan mau mengikuti atau tidak,’’ kata Ivan dalam sesi tanya jawab.



