Melihat perkembangan usaha tersebut, pada tahun 2004, Hadiie tertantang menambah investasi untuk membangun tempat usaha lebih besar, membeli peralatan untuk menambah kapasitas produksi.
“Saya ajukan pinjaman senilai Rp 400 juta ke salah satu bank, tapi saat itu ditolak. Lalu saya ajukan ke bank lain malah disetujui sebesar Rp 600 juta,” ungkap Hadiie.Menurutnya, ia memberlakukan cara pembelian cash.
“Saya membeli bahan baku dari petani secara cash, demikian pula sebaliknya, konsumen membeli produk saya juga secara cash. Model kerjasama seperti ini minim risiko,” tuturnya.
Pinjaman itu lalu digunakan untuk membeli empat buah ruko berlantai tiga dan direnovasi sebagai tempat usaha terpadu.
Strategi ini terbukti berhasil. Modal usaha yang didapatnya tersebut semakin memajukan usaha Hadiie. Pada tahun ketiga, Hadiie memberanikan diri mengajukan pinjaman lagi kepada bank yang sama sebesar Rp 1,1 miliar.
“Saya perhitungkan omzet yang saya peroleh bisa mencukupi angsuran pinjaman tersebut. Bahkan saat ini, plafon pinjaman yang diberikan oleh bank kepada Hadiie telah mencapai Rp 10 miliar. Besarnya plafon pinjaman tersebut menjadi cermin kepercayaan lembaga pendanaan terhadap bisnis Hadiie yang semakin bertumbuh.



