Porsi utang luar negeri keempat sektor tersebut mencapai 77,6 persen terhadap total utang luar negeri swasta. Ini artinya, porsinya sedikit meningkat dibanding bulan sebelumnya sebesar 76,9 persen. “Secara tahunan, pertumbuhan utang luar negeri di sektor keuangan, industri pengolahan, dan LGA meningkat. Sedangkan ULN di sektor pertambangan secara tahunan menurun,” kata laporan tersebut.
Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan utang tidak selamanya buruk. Pasalnya, negara maju seperti Jepang dan Amerika Serikat tetap memiliki utang untuk mendorong perekonomian.
Yang terpenting, utang digunakan untuk hal-hal produktif. “Yang tidak boleh, kalau pinjam tapi tidak untuk yang produktif. Itu nanti terpaksa harus mencari dari kegiatan lain dana pembayarannya,” kata Darmin, kemarin.
Menurut dia, Indonesia juga bisa saja mengambil opsi tidak berutang. Tapi, kata dia, konsekuensinya pertumbuhan perekonomian tidak akan mencapai target yaitu 5,2 persen. “Siap-siap pertumbuhannya 3 sampai 4 persen, mau?” ujar Darmin.
Pengamat ekonomi dari Indef, Bhima Yudhistira menilai jumlah utang luar negeri RI yang sudah mencapai Rp4 ribu triliun ini perlu diwaspadai atau sudah masuk lampu kuning. Dari data statistik utang luar negeri bisa dilihat bahwa pertumbuhan utang luar negeri pemerintah kian pesat. Artinya pemerintah lebih agresif berutang daripada swasta. “Ini kondisi anomali,” kata Bhima.



