Sementara, berdasarkan Bank Indonesia, pertumbuhan utang luar negeri RI akhir November lalu sudah mencapai 347,3 miliar dolar AS atau setara dengan Rp4.562 triliun jika menggunakan kurs hari ini yaitu Rp13.300 per dolar AS. Jumlah tersebut naik 9,1 persen dari tahun sebelumnya.
Kenaikan paling tinggi didorong jumlah utang luar negeri pemerintah. Jika dirinci, utang luar negeri paling tinggi masih didominasi sektor publik (pemerintah dan BI) yaitu sebesar 176,6 miliar dolar AS. Sedangkan untuk sektor swasta jumlahnya mencapai 170 miliar dolar AS atau naik sekitar 4,2 persen secara tahunan.
Meski utang luar negeri naik, BI memandang risikonya masih terkendali. Sebab, rasio utang luar negeri terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada akhir November 2017 masih stabil di kisaran 34 persen. “Rasio tersebut masih lebih baik dibanding rata-rata negara peers,” demikian dikutip dari laporan tersebut.
Utang luar negeri juga diklaim aman lantaran didominasi utang jangka panjang. Porsi utang luar negeri jangka panjang mencapai 85,7 persen, sedangkan yang berjangka pendek hanya 14,3 persen. Meski begitu, pertumbuhan utang jangka pendek tercatat cukup tinggi yaitu 19,8 persen secara tahunan dan 10,8 persen secara bulanan. Pertumbuhan tersebut di atas utang jangka panjang yang naik 7,5 persen secara tahunan dan 3,9 persen secara bulanan.
Jika dilihat secara sektoral, utang luar negeri swasta terkonsentrasi di sektor keuangan, industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih (LGA), serta pertambangan.



