Membingungkan, Ilmuan China Sebut Vaksin Buatan China Kurang Efektif Lawan Virus Covid-19 Varian Delta

TKA CHINA
Para petugas medis bersiap menyambut kedatangan warga negara asing yang hendak disuntik vaksin COVID-19 dosis pertama di bilik-bilik semipermanen yang didirikan di areal Museum Chaoyang Park, Beijing, China, Selasa (23/3/2021). Sedikitnya 160 jurnalis asing yang bertugas di Beijing dan ratusan diplomat mendapatkan suntikan vaksin buatan Sinopharm dalam program vaksinasi massal khusus untuk WNA tersebut. ANTARA FOTO/M. Irfan Ilmie/21 (ANTARA/M. Irfan Ilmie)

BEIJING– Antibodi yang dihasilkan oleh dua vaksin COVID-19 buatan China kurang efektif melawan varian Delta dibandingkan varian lainnya, namun masih memberikan perlindungan, kata peneliti China kepada media pemerintah.

Varian COVID-19 Delta, yang mulanya muncul di India, menjadi varian dominan di seluruh dunia dengan penularannya yang tinggi, seperti yang diperingatkan kepala ilmuwan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pekan lalu.

Bacaan Lainnya

Dalam wawancara yang disiarkan oleh China Central Television pada Kamis (24/6), Feng Zijian, peneliti sekaligus mantan wakil direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit China, tidak memaparkan penjelasan lebih lanjut.

Tanpa menyebut nama kedua vaksin yang dimaksud, Feng mengatakan vaksin-vaksin itu masuk kategori vaksin nonaktif, yang mengandung virus corona “mati” dan tidak dapat melakukan replikasi pada sel manusia.

Lima dari tujuh vaksin buatan lokal dalam skema vaksinasi massal China merupakan vaksin nonaktif. Jenis itu mencakup vaksin produksi Sinovac Biotech dan Sinopharm yang digunakan di berbagai negara, seperti Brazil, Bahrain, dan Chile.

Varian Delta menyebabkan kemunculan kasus di tiga kota di Provinsi Guangdong, kata pejabat. Di sana, total 170 pasien terkonfirmasi setempat dilaporkan antara 21 Mei-21 Juni.

Belum diketahui pasti berapa banyak dari mereka yang tertular varian Delta.

Sekitar 85 persen dari kasus Guangdong dalam wabah terbaru ditemukan di ibu kota provinsi, Guangzhou.

“Dalam wabah Guangdong … tidak ada satu pun dari kasus yang sudah divaksin menjadi parah, dan tidak ada kasus parah pada yang divaksin,” kata Feng.

Sumber: Reuters

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.