Terpisah, seorang warga Kampung Cimapang, Kedusunan Tanjungsari, Deden (26) mengatakan, setelah perusahaan itu berdiri sejak 2012 silam, hampir seluruh keluarganya mengalami penyakit gatal-gatal. “Bahkan anak saya yang baru berusia sekitar 18 bulan, sudah terserang penyakit tersebut,” aku Deden.
Kuat dugaan warga, bahwa penyakit gatal-gatal tersebut, akibat dari aktivitas perusahaan asal Thailand yang telah mencemari lingkungan. Terlebih lagi, Kedusunan Tanjungsari lokasinya berjarak sekitar 1 km dengan Gunung Guha yang merupakan lokasi pertambangan untuk dijadikan bahan baku semen PT SCG.
“Penyakit gatal-gatal disebagian tubuh anak saya, sudah ada sekitar 8 bulan. Saya sudah bawa anak saya untuk berobat berulangkali ke Pusekesmas dan klinik. Bahkan, ada satu keterangan dari tim medisnya, bahwa penyakit gatal-gatal itu akibat dari pencemaran lingkungan,” bebernya.
Perusakan kondisi lingkungan di Gunung Guha, setiap harinya semakin terasa. Apalagi, lokasi pertambangan bahan baku semen tersebut, tempatnya berada di atas pemukiman warga.
“Polusi dan debunya selain mencemari mata air, juga telah mencemari pakaian warga yang tengah dijemur. Jadi tidak heran jika warga disini mengalami penyakit gatal-gatal di kulit. Jika mandi dengan air sumur, dugaan kuat akibat air mulai tercemar oleh polusi pertambangan semen tersebut,” imbuhnya.
Untuk itu, ia berharap kepada pihak pemerintah ataupun perusahaan agar rutin melakukan pengobatan kepada warga terdampak.
“Sebab, jika obat yang diberikan dari Puskesmas Jampang Tengah ini sudah habis, maka penyakit gatal-gatal itu akan kembali menyerang warga. Jadi, bisa dibilang warga di sini mulai ketergantungan obat gatal ini. Sebab, setiap harinya perusahaan tersebut beraktivitas dan mengeluarkan polusi,” tandasnya.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terpisah pihak PT SCG yang diwakili oleh Triyo mengatakan, bahwa pengobatan sudah dilakukan oleh PT SCG, namun, memang sifatnya tidak rutin. Tapi, terkait keluhan warga yang menduga bahwa aktivitas PT TSS dan PT SCG sebagai ‘dalang’ timbulnya penyakit yang diderita warga, dirinya mengaku tidak memiliki otoritas untuk menjawab persoalan tersebut.
“Karena hal ini, pihak dokter lah yang nanti akan mengkompilasi semua keluhan penyakit dari warga yang berobat,” imbuhnya.
Sejauh ini, sambung Triyo, menurut keterangan sementara dokter, penyakit yang dikeluhkan pada pengobatan ini sangat beragam. Seperti ada yang karena efek dari personal hygiene, sampai ada yang nyeuri punggung.
“Secara periodik, kami akan melaporkan hasil pengobatan gratis ini kepada kepala desa yang berisi berbagai keluhan penyakit warga,” pungkasnya. (cr13/e)





