Rinduku Terhalang Skat, Penyekatan Bertambah jadi 381 Titik

  • Whatsapp

SUKABUMI – Larangan mudik lebaran tahun ini memang benar-benar menguras energi dan emosi. Bagai mana tidak, masyarakat dipaksa menahan rindu bertemu sanak famili setelah bertahun-tahun merantau di negeri orang. Penyekatan di berbagai daerah dan perbatasan membuat masyarakat sulit menembus dinding kebijakan tersebut.

Salah seorang warga Perum Bumi Raharja, Kelurahan Cikundul, Kecamatan Lembursitu Kota Sukabumi, Erni Sumarni mengaku tak ada sosok suami pada Idul Fitri 1442 H tahun ini.

Bacaan Lainnya

“Ya selain karena masih ada kerjaan di Jakarta, suami saya juga tidak bisa mudik akibat larangan mudik lebaran oleh pemerintah,” lirihnya kepada Radar Sukabumi, kemarin (7/5).

Ia mengaku, satu sisi kebijakan tersebut memang bagus untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Tapi disisi lain, larangan kebijakan tersebut dinilainya masih tumpang tindih. “Kebijakannya masih ngambang. Satu sisi mudik dilarang, tapi disisi lain orang berwisata katanya kan boleh,” paparnya.

Untuk mengobati dahaga rindu kepada sang suami, dirinya sempat berencana pergi ke Jakarta bersama kedua anaknya. Namun, niat terebut urung dilakukan karena takut terjebak kebijakan penyekatan.

“Sebenarnya saya sudah rencana menyusul ke Jakarta. Tapi, setelah melihat perkembangan, niat tersebut batal dilakukan. Saya takut kalau dipaksakan, justru nanti malah tak bisa kembali. Makanya terpaksa kami sekeluarga menahan rindu untuk berkumpul pada perayaan Idul Fitri tahun ini,” akunya.

Adi Saparul Ardi karyawan di salah perusahaan di Jakarta mengaku sudah satu tahun ini dirinya jarang pulang. Selama panemi Covid-19 melanda, dirinya sangat sulit untuk bertemu keluarganya di Sukabumi. “Memang selama Covid-19 ini saya jarang sekali pulang. Tadinya momentum lebaran ini menjadi pengobat rindu. Tapi ternyata tidak bisa karena ada kebijakan larangan mudik,” akunya.

Padahal menurutnya, pemerintah tidak lantas mengeluarkan kebijakan yang terkesan latah. Masih ada kebijakan lain yang lebih humanis untuk diterapkan. Salah satunya, dengan memperketat syarat agar bisa mudik. “Buktinya kan masih ada saja yang bisa mudik. Kalau memang mau tegas, jangan setengah-setengah. Kalau saat ini kan terkesannya kebijakan yang dikeluarkan antara satu kementerian dengan kementerian lain tumpang tindih,” beber Adi.(nur)

loading...

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *