Ditambahkannya, pelayanan yang dilakukan P2TP2A selama Covid-19 ini tidak bisa menemui masyarakat tapi masyarakat yang datang langsung ke pelayanan. Itu terjadi lantaran terkendala teknis, salah satunya penerapan protokol kesehatan dan juga anggaran pun tidak ada karena Covid -19.
Di Hari Anak Nasional ini, Joko berharap pemerintah harus bisa berpikir proposional. Artinya, pemerintah tdak hanya fokus ke Covid-19 tapi harus memikirkan kegiatan yang memang sangat darurat.
“Seperti perlindungan anak dan perempuan, ini sangat emergency bukan diabaikan dan di anggap sepele atau enteng. Harus juga didukung oleh pemerintah dari segi anggaran,” katanya.
Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Sukabumi. Jumlah kasus kekerasan terhadap anak dibawah umur begitu mengerikan. Bagaimana tidak, dalam kurun waktu awal Januari sampai akhir Juni 2020, DP3A Kabupaten Sukabumi, ada sebanyak 70 kasus kekerasan terhadap anak.
Dimana, dua anak jadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), 58 kasus kekerasan seksual, empat kasus trafficking dan enam kasus lainnya. Seperti kasus pengeroyokan, bully, penganiayaan, kabur dan kasus penelantaran.
Kepala DP2A Kabupaten Sukabumi, Aisyah mengatakan, kasus paling banyak ditemukan pada kekerasan seksual atau kasus pedofil.
“Paling banyak korbannya adalah kasus pedofil yang terjadi di wilayah Kecamatan Kabandungan hingga korbannya berjumlah sekitar 29 anak dibawah umur,” kata Aisyah kepada Radar Sukabumi usai memperingati Hari Anak Nasional di halaman kantor DP3A Kabupaten Sukabumi, tepatnya di Jalan Raya Siliwangi, Nomor 65, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, kemarin (23/7).
Pada masa pandemi corona atau Covid 19 ini, kasus kekerasan anak di bawah umur meningkat tajam. Hal ini terjadi akibat berbagai faktor. Diantaranya, banyak warga ataupun orangtua yang mengalami stres karena kebanyakan diam di rumah, tekanan ekonomi, pola asuh dan pendidikan lingkungan yang tidak kondusif.
“Jadi dimasa pandemi Covid 19 ini, kasus kekerasan anak di bawah umur, bukannya menurun. Tetapi malah meningkat. Kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya pada periode yang sama, saat ini kasusnya meningkat sekitar 20 persen,” paparnya.






