BERITA UTAMADP3A

Refleksi Hari Anak Nasional, Masih Belum Terlindungi

×

Refleksi Hari Anak Nasional, Masih Belum Terlindungi

Sebarkan artikel ini
Kekerasan Anak
Kekerasan Anak. (foto Ilustrasi/Dok Radar Sukabumi)

“Seringkali kesabaran orang tua diuji oleh anak. Perilaku anak diuji oleh orang tua, ketika tidak sanggup maka mengakibatkan kekerasan fisik terhadap anak,” lanjut Joko.

Belum lagi dilihat dari segi ekonomi, kebutuhan masyarakat harus terpenuhi sementara kondisi pekerjaan dan usaha tidak ada. Ditambah kondisi anak yang harus belajar di rumag selama pandemi Covid-19.

Bank bjb Tandamata

“Jika emosi orang tua tidak bisa terkendali, karena kerpikiran kebutuhan, pekerjaan, lalu ditambah beban untuk mengajarkan anak, maka akan terjadi sasaran kekerasan kepada anaknya,” jelasnya.

Ditambah saat kondisi pandemi Covid-19 ini, masyarakat tidak bisa melakukan relaksasi atau refreshing. Bahkan sekarang ini kadar tindakan preventif masyarakat terhadap Covid-19 yang harusnya lebih tinggi, fakta dilapangan malah menurun.

Belum lagi ada isu yang tak jelas. Dimana, masyarakat beranggapan Covid-19 itu ada atau engga, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. “Yang panik, panik, yang santai, santai, yang cuek bebek cuek. Nah itu berdampak kepada perlindungan anak, begitupun kasus KDRT,” bebernya.

Di momentum Hari Anak Nasional ini, Joko beharap pemerintah dan masyarakat bukan hanya ingat dengan seremonila saja. Tapi semestinya lebih kepada subtansi. Dimana, pemerintah harus melakukan bagaimana menyikapi terhadap keberlangsungan para penerus generasi bangsa.

“Kita masih berparadigma nya seremonial, tapi subtansi seperti apa. Apalagi ini ditengah pandemi Covid-19, perhatian sudah berubah seolah olah sudah siap. Tapi kenyataanya, tidak ada kesiapan.

Lembaga apapun tidak siap dalam memperhatikan anak-anak. Ini PR besar, belum ada pemantapan bagaimana sikap pemerintah dalam mempersiapkan jangka menengah dan jangka panjang dampak Covid-19 bagi anak-anak. Perencanaannya seperti apa itu, belum ada,” pungkasnya.