Kalau melihat hasil survey dari empat lembaga survei, rerata hasilnya adalah Fahmi menempati pertama, Muraz posisi kedua, Andri Hamami posisi ketiga, kemudian disusul Ayep Zaki.
Maka, kemunculan Ayep Zaki dalam Pilkada Kota Sukabumi ini sangat fenomenal.
Ketua DPD Partai Nasdem Kabupaten Sukabumi itu mendaftarkan diri ke berbagai partai politik di wilayah Kota Sukabumi. Seperti PAN, PDIP, Gerindra, hingga Nasdem Kota Sukabumi. Dan terbaru, Ayep Zaki telah mendapatkan surat khusus dari tiga parpol, yaitu Nasdem, PAN, dan Demokrat. Terbaru, berdasarkan informasi yang diperoleh Radar Sukabumi, Ayep Zaki juga mendapatkan surat dari PDI Perjuangan.
“Bisa dilihat pergerakan Pak Ayep Zaki juga sangat luar biasa. Maka ada kemungkinan tiga poros,” tuturnya.
Hadirnya Ayep Zaki pun dianggap daya tawar menarik. Sebab jika melihat ketiga calon yang telah disebutkan, Fahmi, Muraz, dan Andri, merupakan mantan kepala daerah, sedangkan Ayep Zaki adalah figur baru yang berlatar belakang nonkepemerintahan.
Hal ini menjadi variabel bagi publik dalam menilai para calon kepala daerah. Semisal, rekam jejak para mantan kepala daerah.
Sedangkan Ayep Zaki memiliki kasus berbeda karena latar belakangnya sebagai pengusaha.
Asep Deni pun mengungkapkan faktor kunci dalam pilkada, yaitu posisi wakil.
Jika memang isu Muraz dan Andri sepakat berpasangan, maka kunci itu telah dimiliki.
Lantas, bagaimana dengan Achmad Fahmi dan Ayep Zaki yang belum memiliki sekondan?
“Ini dinamikanya juga luar biasa. Kalau dilihat yang sudah daftar, belum ada yang menonjol. Kita lihat saja, tokoh seperti Pak Sulaiman Salim belum terlihat muncul.
Begitupun Pak Nurul Jaman Hadi (Haji Aun) dan Pak Ade Wahyudin juga belum terlihat menonjol. Jadi figur bakal calon wali kota itu juga menjadi penentu yang sangat penting,” sebutnya.
Khusus untuk Fahmi, Asep Deni mengatakan dia akan berhati-hati. Karena sebagai Wali Kota Sukabumi 2018-2023, tentu sangat menginginkan melanjutkan pengabdiannya di periode kedua.
Untuk itu, Fahmi harus berhitung benar-benar cermat, holistik dan menyeluruh.
“Sehingga jangan sampai salah memilih wakil. Maka, posisi wakil di sini sudah tidak lagi menjadi ban serep, tapi sudah menjadi strategic person. Yaitu orang yang memiliki peran strategis dalam menentukan kemenangan,” jelasnya.






