Perjalanan menuju Generasi Emas Indonesia 2045 tidak dimulai ketika seorang anak memasuki bangku sekolah. Proses itu justru berawal jauh lebih awal, sejak seorang ibu menjalani masa kehamilan hingga proses persalinan. Pada fase itulah sosok bidan menjadi garda terdepan yang memastikan setiap kehidupan baru lahir dengan sehat dan memiliki kesempatan tumbuh secara optimal.
Di balik setiap bayi yang lahir dengan selamat, ada peran tenaga kesehatan yang bekerja tanpa mengenal waktu. Mereka mendampingi ibu hamil, memantau tumbuh kembang janin, memberikan edukasi tentang gizi, hingga menjadi penolong saat proses persalinan. Peran tersebut menjadikan bidan bukan sekadar profesi, tetapi bagian penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki menilai, investasi terbesar sebuah daerah bukan hanya pembangunan fisik, melainkan menyiapkan generasi yang sehat sejak awal kehidupan. Karena itu, keberadaan bidan memiliki posisi yang sangat strategis dalam menghadapi tantangan kesehatan, mulai dari stunting hingga tingginya angka kematian ibu dan bayi.
“Kalau kita ingin mewujudkan Generasi Emas 2045, anak-anak Indonesia harus lahir dalam kondisi sehat. Bidan menjadi salah satu ujung tombaknya karena mereka mendampingi ibu sejak masa kehamilan sampai persalinan,” ujar Ayep Zaki saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-75 Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Kota Sukabumi, pada Sabtu (4/7).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Kualitas kesehatan ibu dan anak menjadi fondasi yang menentukan masa depan bangsa.
Di Kota Sukabumi, bidan juga menjadi bagian penting dalam berbagai upaya pencegahan stunting. Melalui pendampingan ibu hamil, pemantauan kesehatan bayi, edukasi gizi, hingga pelayanan kesehatan reproduksi, mereka hadir di garis depan untuk memastikan anak-anak mendapatkan awal kehidupan yang baik.
Ayep menegaskan, persoalan kesehatan ibu dan anak tidak mungkin diselesaikan oleh pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi dengan organisasi profesi, termasuk Ikatan Bidan Indonesia, agar berbagai program kesehatan dapat berjalan secara optimal.
“IBI adalah mitra strategis pemerintah. Bersama para bidan, kita berupaya menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, sekaligus memperkuat pencegahan stunting sejak dini,” katanya.

Tema peringatan HUT ke-75 IBI, “Dunia Membutuhkan Lebih dari Sejuta Bidan (One Million More Midwives)”, menjadi refleksi bahwa kebutuhan terhadap tenaga bidan profesional terus meningkat. Tidak hanya untuk membantu proses persalinan, tetapi juga sebagai edukator, pendamping keluarga, dan penggerak kesehatan masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan kesehatan yang masih dihadapi Indonesia, keberadaan bidan menjadi investasi jangka panjang yang nilainya tidak tergantikan. Dari ruang pemeriksaan sederhana hingga ruang bersalin, mereka turut menentukan kualitas generasi yang kelak akan memimpin bangsa.
Bagi Pemerintah Kota Sukabumi, memperkuat peran bidan berarti memperkuat fondasi pembangunan manusia. Sebab, Generasi Emas 2045 bukan sekadar target nasional, melainkan cita-cita yang dibangun dari setiap bayi yang lahir sehat, setiap ibu yang selamat melahirkan, dan setiap keluarga yang mendapatkan pelayanan kesehatan terbaik. (*)







