“Kita kembali introspeksi diri, apakah kita menjaga alam, apakah kita mengubah alam kita ini menjadi katakanlah kegiatan ekonomis yang justru mengubah alam tersebut,” paparnya.
Menurutnya, hal itu merujuk banyaknya titik lokasi bencana yang terjadi di Kabupaten Sukabumi yang didominasi oleh bencana angin kencang, banjir, tanah bergerak hingga longsor yang mengakibatkan putusnya sebagian akses jalan.
“Yang paling besar adalah angin kencang, kedua banjir dan longsor jadi ini katalog bencananya adalah hidrometeorologi,” pungkasnya. (den/d)






