Mereka dibagi menjadi 9 tim sesuai jumlah Dapil di Kota dan Kabupaten Sukabumi. Dimana, mereka ditempatkan di 6 dapil Kabupaten Sukabumi dan 3 dapil Kota Sukabumi. Untuk menjaga independensi dan kerahasiaan data, para mahasiswa dan tim simulasi dari Radar Sukabumi digembleng terlebih dahulu.
“Jadi untuk hasil simulasi ini, kami pastikan tidak ada penggiringan masa atau oponi dari salah satu partai politik atau calon manapun,” beber Penanggungjawab Simulasi dan Sosialisasi Pemilu 2024 Radar Sukabumi, Rahmad Yanadi.
Untuk jumlah partisipan pun, pada simulasi tahun ini lebih banyak dibanding sebelumnya. Tak hanya itu, penyebaran titik simulasi pun diperluas.
“Kalau pada simulasi sebelumnya, kami hanya mengambil titik-titik pusat keramaian seperti pasar, terminal dan lainnya. Tapi untuk tahun ini, tim relawan berkeliling ke pelosok-pelosik di setiap kecamatan baik di Kota maupun Kabupaten Sukabumi,” tambahnya.
Sementara itu, Pengamat Politik, Ardian Sopa mengapresiasi Simulasi dan Sosialisasi Pemilu 2024 yang diselenggarakan Radar Bogor Group di 14 Kota dan Kabupaten se-Jawa Barat. Ia berpendapat, data yang dihasilkan dari simulasi tersebut menarik. Karena melibatkan begitu banyak responden. Hal itu menurutnya bisa dijadikan acuan minimal untuk membaca opini publik yang berkembang.
“Terutama karena menggunakan simulasi kertas suara. Sejauh yang saya amati dari berbagai lembaga survei, belum semua menggunakan surat suara. Jadi ini bisa menjadi nilai tambah,” ujar pria yang juga Direktur Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA pada Rabu (20/12).
Menurut pengamatannya, simulasi yang digunakan Radar Bogor Group berbeda dengan metodologi yang biasa digunakan LSI Denny JA dalam 20 tahun terakhir, yakni multistage random sampling. Metodologi yang diterapkan Radar Bogor Group tergolong simple random sampling.
Ia berpandangan, data atau hasil simulasi yang dikeluarkan tidak bisa seluruhnya diklaim mewakili populasi di Jawa Barat karena digelar di 14 Kabupaten Kota. Namun hasil itu bisa menjadi peta suara di Kabupaten Kota.
“Ketika metodologinya baru, tidak bisa mengklaim menjadi yang paling unggul. Namun ini patut dicoba karena bisa jadi hasilnya mendekati yang ada. Diserahkan kembali ke masyarakat apakah berkesuaian atau tidak, dan biarlah mahkamah waktu dan mahkamah sejarah yang membuktikan ini,” ucap Adrian.(nur)






