BERITA UTAMAKOTA SUKABUMI

Alun-Alun Kota Sukabumi Terintergrasi Dongkrak Perekonomian Warga

×

Alun-Alun Kota Sukabumi Terintergrasi Dongkrak Perekonomian Warga

Sebarkan artikel ini
Alun-alun Kota Sukabumi
Alun-alun Kota Sukabumi

SUKABUMI — Keberadaan Alun-alun terintegrasi Kota Sukabumi, mendapat berbagai cuitan positif dari berbagai kalangan. Misalnya saja, para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang merasakan dampak dari keberadaan Alun-alun yang baru selesai dibangun 2022 lalu.

Revitalisasi Alun-alun terintergrasi dengan Lapang Merdeka yang diresmikan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil Sabtu (8/1/2022) itu, mampu menjadi magnet bagi warga baik lokal maupun luar daerah untuk berkunjung sehingga mampu mendongkrak perekonomian. Bahkan menjadi ikon bagi Kota Sukabumi.

Salah seorang pelaku UMKM, Juli Zulfikar (50) mengatakan, para pelaku UMKM menyambut baik dan mengapresiasi pemerintah yang telah menjadikan Alun-alun lebih baik lagi.

“Alhamdulillah kami sangat mengapresiasi pemerintah yang sudah membenahi Alun-alun maupun Lapang Merdeka sehingga wajah kata semakin baik,” kata Juli kepada Radar Sukabumi, Selasa (28/3).

Juli menilai, upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian dengan cara menata wajah kota cukup berhasil. Terbukti, banyak warga baik lokal maupun luar daerah berkunjung di Alun-alun maupun Lapang Merdeka. Otomatis, hal ini bisa menggairahkan para pelaku UMKM terlebih setelah dilanda masa pandemi Covid-19.

“Memang setelah adanya penataan Alun-alun dan Lapdek warga banyak yang berkunjung sehingga hal ini bisa dimanfaatkan para pelaku UMKM untuk menjajakan jualannya,” ujarnya.

Hal senada dilontarkan warga lainnya, Muhamad Yahya Rahman (26) mengapresiasi kinerja pemerintah yang sudah berupaya membangkitkan perekonomian masyarakat.

“Tentunya pembenahan Alun-alun dan Lapang Merdeka sangat baik untuk menjadi pemikat warga daeri luar daerah untuk berkunjung ke Kota Sukabumi. Dengan negitu perekonomian bakal semakin menggeliat,” ucapnya.

Warga berharap, dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah daerah, provinsi maupun pusat mampu meningkatkan kembali perekonomian.

“Semoga dengan adanya berbagai upaya pemerintah, perekonomian bisa semakin meningkat,” paparnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Dapuran Kipahare, Irman Firmansyah menuturkan, Alun-alun Kota Sukabumi saat ini secara estetis cukup bagus. Namun, sedikit melenceng dari konsep Alun-alun secara sejarah dan budaya lantaran kata Alun-alun atau Halun-halun ini diasosiasikan dengan suatu tempat yang memiliki sifat telaga dengan riak tenang serta dimanifestasikan dengan lapangan berumput hijau sebagai unsur alam dilengkapi pohon beringin di tengah atau dipinggir.

“Unsur alam yang sejuk dan tenang inilah yang menjadi sumbu yang mengorganisir tata ruang ini sebuah kota di mana dalam konsep tradisional disebut mancapat,” tuturnya.

Irman menjelaskan, mancapat sebagai pusat orientasi spasial, arah empat ini sebagai pembentuk unsur air, bumi, udara dan api. Secara imjiner melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam.

“Dalam konsep ini representasi hunian manusia merupakan penyerahan diri pada struktur kosmologis serta mengacu pada pandangan hidup ekologis,” imbuhnya.

Karena itu, Alun-alun pada masa lampau merupakan tempat favorit dimana pemimpin bisa bertemu dengan masyarakat dan bisa beraktifitas dengan nyaman.

“Idealnya sesudah beraktivitas penuh di kota, warga bisa berkontemplasi dengan nyaman dan sejuk di sana. Keteduhan inilah yang sekarang mulai hilang dari identitas kota baik keteduhan dalam arti sebenarnya maupun keteduhan batin,” cetusnya.

Irman mengingatkan, Alun-alun ini juga masih lekat dengan sejarah kota seolah menopang kelestarian kota melalui konsep spiritualnya.

“Kita ingat banyak peristiwa bersejarah yang berkaitan dengan Alun-alun ini, kita apresiasi dengan adanya ruang galeri, sejarah namun tidak melulu menutamakan fisik dan estetik belaka, tetapi juga makna, fungsi, serta karakter manusianya.

Karena alun-alun ini identitas warga Kota Sukabumi. Meskipun didesain dengan konsep modern namun ruang terbuka ini seyogyanya bisa menjadi ruang terbuka kultural yang bisa meneduhkan warga,” pungkasnya. (bam)