BERITA UTAMAKABUPATEN SUKABUMI

Aktivitas Mahasiswa Vanguard Desa Wisata di Kampung Raden Cisande, Raup Cuan dari Lukis Caping dan Buat Layang-layang

×

Aktivitas Mahasiswa Vanguard Desa Wisata di Kampung Raden Cisande, Raup Cuan dari Lukis Caping dan Buat Layang-layang

Sebarkan artikel ini
Mahasiswa Vanguard Desa Wisata program MKBKM membuat layang-layang dari home industri di Kampung Raden Desa Wisata Cisande, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Langit Sukabumi menjadi indah. Karena dihiasi layang-layang yang berwarna-warni. Sementara itu, terdengar riuh tawa muda-mudi bertopikan caping. Sama seperti layang-layang, capingnya cantik dan menarik. Karena dilukis dengan aneka warna. Di sudut lain, ibu-ibu dibantu para mahasiswa sedang belajar membuat kuliner budaya. Begitulah potret dari aktifitas di Desa Wisata Cisande, Kampung Raden, Kecamatan Cicantayan, Kabupaten Sukabumi.

Laporan: FAWZY AHMAD, Sukabumi

Bank bjb Tandamata

“BISA dibilang itulah trademark dari Kampung Raden Desa Wisata Cisande,” kata Maman Mulyana, penggerak Desa Wisata Cisande kepada Radar Sukabumi, Kamis (27/1).

Perlu diketahui, Desa Wisata Cisande masuk dalam 50 besar Desa Wisata Indonesia terbaik di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Bahkan, Menteri Menparekraf Sandiaga Salahudin Uno pernah bertandang ke sana. Salah satu yang dilakukan Sandi adalah bermain layang-layang.

Kini, lokasi tersebut menjadi salah satu lokus dalam program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan dan Riset Teknologi (Kemendikbudristek). Ada sembilan mahasiswa se-Indonesia yang tergabung dalam Vanguard Desa Wisata mengabdikan diri di Kampung Raden Desa Wisata Cisande.

“Mereka di sini belajar banyak hal. Seperti ikut dalam sekolah ibu, sekolah barudak, lalu berkeliling mencari home industri yang bisa mendukung seperti handicraft dan kuliner wisata khas. Dan mereka juga terlibat langsung dalam aktifitas atau kegiatan yang ada disini, mulai dari adventure hingga budaya, wisata seperti lukis caping dan lukis layang-layang,” papar Maman yang juga menjabat sebagai Ketua BUMMAS (Badan Usaha Milik Masyarakat) Anugerah Tani.

Pada program Sekolah Ibu, jelas Maman, mahasiswa membantu ibu-ibu setempat untuk mempersiapkan kuliner budaya untuk dipasarkan lewat pasar digital. Sementara untuk Sekolah Barudak, fokusnya pada budaya tradisional yang nantinya ditampilkan pada festival di Kampung Raden.

Maman mengatakan, materi ini sengaja diberikan untuk membantu program mereka dalam rangka mempersiapkan pasar digital marketing. “Mereka merasakan langsung semua aktifitas masyarakat di sini. Mereka foto-foto, lalu buat berita. Sehingga nanti dikonnsep di pasar digital marketing baik Instagram, Youtube dan platform media sosial lainnya,” sebut Maman.

Adalah wisata edukasi, kata Maman, yang menjadi unggulan dari Kampung Raden Desa Wisata Cisande. Ini menjadi paket yang ditawarkan kepada sekolah-sekolah yang ada baik di Kota maupun Kabupaten Sukabumi.

“Kami memberikan edukasi kepada siswa-siswa yang ingin belajar tentang kegiatan budaya dan wisata di Kampung Raden Desa Wisata Cisande,” ucapnya.

Adapun kegiatannya mulai dari bercocok tanam seperti kangkung dan padi, membuat cincau, outbond bersama orang tua, kegiatan camp ground, river tubing, flying fox, treking ke Bukit Cemara 1 untuk melihat matahari terbit dan tenggelam. Serta membuat layang-layang dan melukis topi caping.

“Intinya semua kegiatan yang bersifat edukasi wisata, jadi unggulan di sini. Alhamdulillah, selama pandemi hingga sekarang kegiatan edukasi wisata di Kampung Raden Desa Wisata Cisaden banyak dikunjungi sekolah-sekolah. Dihitung dalam jangka 2 tahun belakang, ada 2 ribu orang yang berkunjung untuk edukasi wisata di Desa Wisata Cisande,” beber Maman.

Soal layang-layang. Maman mengungkapkan itu menjadi komoditi wisata yang diunggulkan. Selain didukung oleh cuaca, yakni angin, terdapat home industri yang digeluti masyarakat sekitar. Namanya Putra Dian MM. “Mahasiswa juga sudah belajar langsung membuat layang-layang,” ucapnya.

Sementara untuk caping, memang tidak ada home industri di Cisande. Namun pengelola desa wisata membelinya dari pengrajin caping di wilayah Cibaraja, Kecamatan Cisaat. Caping sendiri adalah topi untuk petani berbentuk kecurut yang terbuat dari anyaman bambu.

“Jadi kita bantu mereka (pengrajin Caping di Cibaraja,red.) dengan membelinya. Karena selama pandemi usaha mereka terdampak. Nah, caping tersebut kita lukis agar menjadi menarik,” bebernya.

Lantas, berapakah cuan yang dihasilkan dari kegiatan edukasi wisata dan budaya di Kampung Raden Desa Wisata Cisande? Maman dengan mantap menyebutkan sangat menjanjikan. Terlebih Sukabumi yang dikenal sebagai daerah destinasi wisata terbaik di Jawa Barat.

“Untuk satu even saja, kita ambil yang terkecil, salah satu sekolah, ada 65 orang anak kita jual paket Rp65 per orang. Itu untuk setengah hari. Dari paket tersebut, masyarakat di sini bisa mendapatkan uang Rp3,3 juta untuk satu paket wisata setengah hari untuk satu sekolah,” paparnya.

“Lalu ada juga yang paket 2 hari 3 malam, kita jual Rp230.000 per orang dikali 100 peserta hampir Rp23 juta,” sambung Maman.

Kegiatan edukasi wisata di Kampung Raden Desa Wisata Cisande diklaim menjadi nilai ekonomi tambahan bagi masyarakat lokal setempat. Apalagi dengan salah satu program wajib Mahasiswa Vanguard Desa Wisata, yakni mengembangkan homestay setempat.

“Alhamdulillah, kita libatkan semua masyarakat lokal disini dibantu mahasiswa. Untuk yang eksis, hari ini ada 5 homestay yang ditempati mahasiswa. Itu sedang mereka berikan standarisasi. Lalu ada juga 3 homestay yang tidak ditempati karena VIP. Ya, cukup bagus. Jadi total ada 8 homestay yang sudah ready,” tuntasnya. (izo)