SUKABUMI — Di Mapolres Sukabumi Kota, Rabu (25/02/2026), seorang ibu berusia 55 tahun duduk dengan mata berkaca-kaca. EY, begitu ia disapa, akhirnya memberanikan diri membuka rahasia kelam yang selama bertahun-tahun membelenggu putrinya. Suaranya bergetar, namun tekadnya bulat: ia ingin dunia tahu bahwa anaknya bukan satu-satunya korban.
“Anak saya sering melamun, tiba-tiba menangis tanpa sebab,” kenang EY. Rasa curiga itu membawanya memeriksa ponsel sang anak. Di sana, ia menemukan percakapan yang menyayat hati: pengakuan tentang perlakuan tidak senonoh dari sosok yang selama ini dihormati sebagai guru agama. Lebih mengejutkan lagi, teman-teman putrinya membalas dengan cerita serupa.
EY kemudian memanggil empat santriwati lain. Dengan hati-hati, ia bertanya. Jawaban mereka membuat darahnya berdesir: semua mengaku diperlakukan biadab oleh pimpinan pondok pesantren. Dari sana, teridentifikasi enam korban, meski diyakini jumlahnya bisa lebih banyak.
Modus pelaku bukan sekadar pelecehan fisik. Ia menggunakan doktrin agama dan relasi kuasa untuk melumpuhkan perlawanan. Santri kalong kerap dipanggil di jam sepi, diberi doa seolah-olah pelecehan itu bagian dari “transfer ilmu.” Bahkan, ada pengakuan bahwa dua santriwati pernah dibawa ke hotel di Kadudampit, ditelanjangi, dan dilecehkan berulang.
EY tak bisa menyembunyikan amarahnya. “Mereka datang menawarkan uang, minta tanda tangan berkas. Saya marah! Ini bukan soal uang, ini soal masa depan anak kami yang hancur seumur hidup,” tegasnya.
Warga sekitar sebenarnya sudah lama menyimpan keraguan. Sosok pimpinan ponpes itu dikenal berjiwa preman sebelum mendirikan pesantren. Harapan bahwa ia telah berubah menjadi mubaligh ternyata runtuh. “Kami kira sudah taubatan nasuha. Ternyata ini bukan kejadian pertama,” ungkap EY.






