Penulis: Aris Juliansyah, M.I.Kom.
Dosen Program Studi Hubungan Masyarakat
Universitas Muhammadiyah Sukabumi
Indonesia merupakan negara yang kaya akan keanekaragaman budaya dan Bahasa. Mengutip indonesia.go.id Indonesia memiliki 1.340 suku bangsa dan Suku Jawa menjadi kelompok terbesar dengan jumlah 41% dari total populasi. Data tersebut berdasarkan sensus BPS tahun 2010.
Salah satu dari jumlah diatas yaitu Kasepuhan Adat Sinar resmiyang terletak di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi. Disebut kasepuhan karena memiliki model kepemimpinan yang berasal dari adat dan kebiasaan orang tua atau sesepuh (Azri, 2018).
Kasepuhan Adat Sinar resmi termasuk dalam Kesatuan Adat Banten Kidul yang dipimpin oleh Abah Asep Nugraha (kepala kasepuhan). Menurut Abah, kasepuhan ini sudah berdiri sejak abad ke16 dan kepemimpinan Abah Asep ini merupakan generasi ke 10.
Menurut Kusnaka Adimiharja (1989) menyatakan bahwa Masyarakat kasepuhan tidak memiliki keinginan untuk memiliki tanah yang mereka diami. Mereka hanya mengolah dan memanfaatkan lahan yang ada, kemudian berpindah jika dirasa perlu. Sehingga mereka sudah terbiasa hidup nomaden.
Mayoritas warga Kasepuhan adat sinar resmimerupakan petani. Sehingga tanah merupakan bagian terpenting dari kehidupan mereka. Masyarakat ini masih menjaga nilai budaya leluhur khususnya dalam pertanian. Salah satu unggulan dari komoditas pertanian kasepuhan adat sinar resmiadalah padi.
Terdapat 68 varietas padi lokal dan 15 varietas sudah diakui pemerintah. Menurut Abah Asep Nugraha “sebagai keturunan adat banten kidul kami bersama-sama menjaga kearifan lokal khususnya bidang pertanian dalam hal ini benih padi lokal yang menjadi warisan kebudayaan”.
Komunikasi budaya kasepuhan adat sinar resmi dalam proses menanam padi merupakan tradisi turun-temurun dari leluhur yang sampai dengan saat ini masih dipertahankan. Padi merupakan komoditas pertanian yang memiliki perlakuan khusus di Kasepuhan Adat Sirna Resmi.
Terdapat ritual-ritual khusus yang harus dilakukan pada saat proses penanaman padi. Sebelum menanam padi, hal pertama yang dilakukan adalah membaca dua bintang yaitu bintang kerti dan bintang kidang.
Bintang kerti untuk petunjuk “dimana aya kerti geura turun beusi” atau menyiapkan alat/perkakas, bintang kidang untuk petunjuk “dimana aya kidang geura turun kujang” atau waktunya menanam benih padi (nibakeun sri ka bumi).
Bintang kerti dan bintang kidang dianggap mahluk ciptaan Tuhan yang memiliki peran sebagai guru mangsa (waktu). Ketua Kasepuhan dan kolot lembur berkumpul untuk mengamati tanda alam yakni memaknai munculnya kumpulan (rasi) bintang Kerti dan Bintang Kidang yang dapat dilihat dengan jelas dengan mata telanjang pada jam 02.00 hingga jam 04.00 dini hari.
Kedua rasi bintang ini muncul terlihat selama 6 bulan dan tenggelam tidak terlihat selama 6 bulan juga lamanya. Adapun hari menanam padi dilaksanakan sesuai dengan hari lahir yang menanam padi. Warga kasepuhan Sinarresmi tidak menanam padi jika Ketua Kasepuhan belum menanam, Abah adalah orang yang pertama menanam padi.






