Provokasi Awan Gelap

Handi-Salam

Oleh : Handi Salam

OBROLAN Ibu-ibu mulai naik kelas. Tidak lagi membahas tetangga yang culas. Sekarang mengarah kepada Provokasi pemerintah Soal ‘Awan Gelap‘ dan Badai Ekonomi. Mengawali awal bulan November 2022 memang tidak hujan, tapi cerah berawan. Seperti kondisi obrolan ibu-ibu didepan rumah yang membahas soal Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di Pabrik-pabrik yang Semakin Nyata.

Bacaan Lainnya

Ekonomi mulai sulit. Zaman malaise atau kondisi kehidupan yang serba susah dan sulit. Gorengan Tempe semakin tipis, bakwan jadi seukuran bola pingpong dan tahu bandung seperti dadu. Drakor yang tadinya digemari tergantikan dengan isu harga-harga sayuran naik akibat BBM.

Bukan kabar kembira. Setiap harinya pejabat Negara memberikan kabar menakutkan. Padahal sehari-hari hidup sudah buruk. Resesi jadi tranding menjelang pergantian tahun 2022 ke 2023. Pengamat mulai berbicara potensi Indonesia kedepan. Bahkan ada yang berpendapat jika Ekonomi krisis maka bisa berpeluang penundaan pemilu. Itu bisa jadi gejolak dan provokasi menarik. Terutama dilakukan oleh tokoh yang sudah mempersiapkan orang atau figur untuk di 2024.

Kabar berita soal resesi tidak bisa lagi dibendung. Ratusan portal berita bertebaran menjelaskan kondisi ekonomi saat ini lewat gawai ibu-ibu. Cemas soal masa depan anak-anak sekolah. Cemas harga-harga semakin naik. Cemas iuran-iuran pinjol tidak terbayar.

Secara psikologi, istilah resesi sudah berdampak kepada ibu-ibu dan juga mungkin kelas pekerja buruh yang dibayangi dengan PHK. Di sisi lain pendapatan mereka bukan malah meningkat tapi justru berkurang karena sejak Covid-19 menyerang aktivitas ekonomi domestik belum normal diperparah dengan gejolak dunia akibat perang Rusia-Ukraina yang belum jelas kapan berakhir.

Lucunya, elite kita seperti presiden, menteri dan juga tokoh politik bukan malah menenangkan masyarakat yang resah tetapi justru memprovokasi rakyatnya. Kosakata Presiden Jokowi tentang ‘awan gelap’ ekonomi pernyataan Menko Investasi dan Maritim Luhut Binsar Pandjaitan tentang ‘badai ekonomi’ dan pernyataan Menkeu Sri Mulyani mengenai ekonomi dunia “gelap dan pekat”, alih-alih membuat rakyat waspada justru membuat mereka khawatir. Entah apa yang menyebabkan anasir pejabat kita ini doyan dengan kata-jata hiperbola seperti itu!

Mantan Wapres Jusuf Kalla sampai menelepon Sri Mulyani agar tidak terus-terusan memprovokasi rakyatnya dengan pernyataan berlebihan yang menyebabkan masyarakat takut. Kenapa pejabat harus berbagi ketakutan dengan rakyat yang selama ini sudah hidup susah akibat harga-harga melambung tinggi dampak kenaikan BBM?

Bukankah soal ekonomi itu adalah tanggung jawab pemerintah untuk membuat kebijakan yang prorakyat? Kalau ada masalah ekonomi global memang rakyat bisa apa? Menghemat? Mau menghemat bagaimana hidup sudah repot? Logika ini yang tidak dipakai pemerintah.

Kalau pemerintah lagi susah, kesulitan atau tak becus membuat kebijakan jangan berbagi kesusahan dengan rakyat. Kalau memang tak mampu membuat rakyat makmur dan tidak bisa mewujudkan amanat konstitusi dan janji-janji kenapa tidak mundur? Kenapa tidak mencontoh Inggris? Menteri salah mengirim email soal urusan negara yang harusnya pakai surel resmi tetapi lupa ternyata pakai pos-el pribadi, juga mengundurkan diri. Padahal bagi Indonesia itu soal sepele.

Jadi tolonglah berhenti memprovokasi rakyat dengan kosa kata, frasa dan peribahasa hiperbola. Pakailah kata-kata yang meneduhkan, menenangngkan dan empatik sehingga masyarakat yang semakin gelisah dan berduka karena teror kematian di Stadion Kanjuruhan dan ratusan bayi mati gagal ginjal akibat skandal paracetamol cair. Padahal ibu-ibu berharap anaknya sehat dan pulih, justru obat menjemput ajalnya. Masih tegakah pejabat untuk terus menakut-nakuti rakyat?

Ketika ekonomi domestik dan global tengah bermasalah, sungguh tidak elok ketika elite negeri ini masih berbicara tentang pembangunan mercusuar sepeti Ibu Kota Negara (IKN) dan Kereta Cepat Jakarta-Bandung? Sungguh nir empatik. Karena rakyat menganggapnya negara memiliki duit banyak kenapa tidak dialihkan untuk menolong rakyat yang lagi susah. Kalau punya duit banyak kenapa ada istilah awan gelap, badai ekonomi atau ekonomi gelap dan pekat. Itulah anggapan sederhana masyarakat.

Ditambah lagi Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyatakan Kereta Cepat Jakarta-Bandung akan diteruskan sampai Surabaya. Pernyataan ambisius itu tidak tepat diucapkan ke publik yang hidup sulit ditambah terlilit utang pinjol. Sementara Kereta Cepat Jakarta-Bandung saja pembangunannya saja tersendat lantaran tergantung pada duit APBN, tidak seperti janji di awal.

Belum lagi sang menteri membumbuinya dengan pernyataan bahwa Indonesia menjadi negara pertama yang memiliki kereta cepat di Asia Tenggara. Sementara pada saat bersamaan justru Laos lebih duluan mengoperasikan kereta cepatnya. Sudah mengklaim, ambisius dan salah pula. Sempurna!.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *