Sejak Deng Xiaoping tampil memimpin negara. Di tahun 1975. Deng Xiaoping punya logika baru. Taiwan tidak usah direbut dengan senjata. Tiongkok yang miskin tidak menarik. Terutama bagi rakyat Taiwan yang sudah makmur. Maka Tiongkok harus makmur dulu.
Bahkan harus lebih makmur. Nanti Taiwan kan terambil sendiri. Melalui jalan ekonomi. Maka diputuskanlah: menghentikan penembakan ke pulau kosong itu. Tahun 1979 itu. Setelah 30 tahun pulau itu ditembaki hampir setiap hari. Alangkah bosannya yang menembaki. Dan alangkah lebih bosannya lagi yang ditembaki.
Empat puluh tahun kemudian. Awal Januari 2019. Taiwan masih kaya. Tiongkok sudah lebih kaya. Lebih kuat. Terkuat kedua di dunia. Di bidang ekonomi. Teknologi. Persenjataan. Empat puluh tahun lamanya. Jalan damai ditempuh. Jalan ekonomi dilalui. Penembakan dihentikan. Taiwan belum menyerah juga. Bahkan merasa lebih kuat.
Sejak Amerika dipimpin Presiden Donald Trump. Yang selalu mem-back-up Tsai Ing-Wen. Mengizinkannya singgah di Amerika. Mengirim kapal perangnya ke Selat Taiwan. Presiden Xi Jinping mengadakan rapat puncak pimpinan negara. Di liburan akhir tahunnya. Xi pun mengeluarkan pidato awal tahunnya. Yang begitu keras.
Xi menunjuk Hong Kong. Sebagai contoh. Setelah 20 tahun bergabung dengan Tiongkok. Menggunakan formula satu negara dua sistem. Toh berjalan baik-baik saja, katanya. Dengan Hong Kong tetap seperti negara merdeka. Punya mata uang sendiri. Punya bank sentral sendiri. Punya demokrasi sendiri.
Yang orang Tiongkok pun perlu paspor dan visa. Untuk pergi ke Hong Kong. Kita pun tidak perlu visa ke Hong Kong. Meski perlu visa ke Tiongkok. Demikian juga dengan Macau. Setelah dilepas oleh Portugis. Hampir 18 tahun lalu. Tiongkok rupanya sudah bosan berhenti menembaki pulau itu. Siapa tahu Tiongkok hanya kangen saja. Atau hanya ngetes nyali presiden Amerika.(***)



