Ingin jadi perdana menteri yang ketiga kalinya. Nawaz terpaksa diizinkan juga untuk pulang. Dari London. Terbang langsung ke Lahore. Tiba di Lahore Nawaz tidak boleh turun dari pesawat. Harusnya, kata penguasa, Nawaz kembalinya dari Arab. Bukan London. Maka pesawat kembali. Ini, kata Nawaz, siasat untuk menjegalnya.
Nawaz lama menunggu di Arab. Untuk bisa pulang. Izin itu akhirnya datang. Atas tekanan rakyat. Dan raja Saudi. Begitu tiba di Pakistan pendaftaran caleg hampir tutup. Tinggal sehari. Tapi Benazir ditembak mati. Entah oleh siapa. Pemilu ditunda beberapa minggu. Hasilnya: partainya Benazir justru yang menang. Meski Benazir sendiri tidak bisa jadi perdana menteri. Untuk ketiga kalinya.
Baru pada Pemilu berikutnya, 2013, giliran partainya Nawaz yang menang. Jadilah Nawas perdana menteri lagi. Yang ketiga kalinya. Meski juga tidak sampai selesai. Keburu dimasukkan penjara lagi. Sampai masuk rumah sakit hari-hari ini.
Kini Pakistan beda lagi. Di Pemilu 25 Juli barusan ganti partai lain yang menang. Tokoh lain yang akan menjadi perdana menteri: Imran Khan. Yang wajahnya mirip penyanyi rock Inggris Mick Jagger itu. Yang latar belakangnya atlet olahraga kriket itu. Yang dikenal sebagai playboy itu. Dan kawin-cerai itu.
Entah model ekonomi apa lagi yang akan dicoba di Pakistan. Begitu seringnya Pakistan ganti-ganti ediologi ekonomi. Saya juga sempat khawatir saat ideologi Nawa Cita ingin diintrodusir lagi di Indonesia. Bukan khawatir ideologinya, tapi khawatir ganti-gantinya. Bisa bikin tidak stabil. Syukurlah Nawa Cita tidak begitu disuarakan lagi. Belakangan ini. Juga tidak begitu dilaksanakan lagi. Tampaknya.
(dis)



