POLITIK

TKD AMIN di Sukabumi Beberkan 3 Isu Strategis

×

TKD AMIN di Sukabumi Beberkan 3 Isu Strategis

Sebarkan artikel ini
Tim Kampanye Daerah (TKD) Kabupaten Sukabumi untuk Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar (AMIN), Anjak Priatama Sukma saat diwawancara belum lama ini.
Tim Kampanye Daerah (TKD) Kabupaten Sukabumi untuk Anies Baswedan - Muhaimin Iskandar (AMIN), Anjak Priatama Sukma saat diwawancara belum lama ini.

SUKABUMI – Tim Kampanye Daerah (TKD) Kabupaten Sukabumi untuk Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar (AMIN), Anjak Priatama Sukma membeberkan strategi yang diterapkan agar pasangan AMIN berjalan mulus menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2024 mendatang.

“Pertama strateginya menggerakkan seluruh jaringan partai untuk bersosialisasi kepada masyarakat terkait dengan semangat perubahan, semangat untuk merubah dari kondisi yang hari ini kita anggap tidak baik-baik saja,” ucap Anjak belum lama ini.

Bank bjb Tandamata

Menurutnya, dengan memilih pasangan AMIN maka kedepan Indonesia akan menjadi Indonesia yang lebih baik di tahun 2024 dibandingkan dengan rezim sebelumnya. Apalagi ada berbagai program yang sama sama diusung oleh PKS bersama Anies Baswedan.

“Diantaranya, pertama yaitu urusan pangan, hari ini coba cek teman-teman harga beras itu sudah di angka 15.000 lebih dan bisa dipastikan itu impor tidak dari petani kita,” jelas Anjak.

Anjak menegaskan, hal itu terjadi karena adanya perubahan undang-undang. Dulu stok pangan itu tidak disebut impor, hari ini salah satu stok pangan dari undang-undang yang disusun Presiden Jokowi salah satunya adalah dari impor, sehingga lebih mudah mereka mengimpor.

“Bayangkan petani sudah tanahnya sedikit, produktivitasnya turun karena pupuknya juga susah luar biasa, harganya juga sangat murah, sehingga kalah bersaing dengan harga-harga impor dengan jumlah yang banyak serta kualitas lebih bagus,” imbuhnya.

Lanjut Anjak, yang kedua yaitu isu lapangan kerja, dimana selama 5 tahun ini pemerintah Indonesia ini mengundang banyak investasi sampai 200 persen kelipatannya, tapi serapan tenaga kerja menurun hampir 76 persen.